Hubungan Durasi Kerja Dengan Gejala Carpal Tunnel Syndrome (Cts) Pada Penjual Rujak DI Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah penyakit neuromuskular yang
ditandai dengan kesemutan, nyeri, dan gangguan sensoris pada telapak hingga jari
tangan akibat adanya kompresi nervus medianus yang berada di dalam carpal
tunnel. Salah satu faktor risiko CTS adalah gerakan fleksi-ekstensi pergelangan
tangan dalam jangka waktu lama yang dapat memicu trauma mekanis ataupun
iskemik pada nervus medianus. Penjual rujak merupakan salah satu pekerjaan yang
berisiko mengalami kejadian CTS. Selain itu, durasi >4 jam dan frekuensi >3 hari
per minggu dapat menimbulkan keluhan mati rasa dan kesemutan pada area tangan.
Semakin lama paparan maka semakin parah juga kerusakan yang terjadi. Prevalensi
kejadian CTS pada ibu rumah tangga yang memiliki kebiasaan mengulek bumbu
mencapai 61,8% dari 838 responden yang diteliti serta lebih sering terjadi pada
populasi berusia 40 hingga 60 tahun dan lebih sering terjadi pada perempuan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi kerja dengan
gejala CTS pada penjual rujak di Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain
penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan dengan wawancara mengenai faktor
risiko gerakan durasi kerja, serta kondisi CTS pada penjual rujak di Kecamatan
Glenmore, Kabupaten Banyuwangi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
adalah teknik quota sampling. Didapatkan jumlah sampel pada penelitian ini yaitu
59 responden. Pada penelitian ini menggunakan kuesioner durasi kerja dan Boston
Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire (BCTQ) versi Bahasa Indonesia.
Kuesioner durasi kerja dibagi menjadi tiga kategori yaitu durasi kerja < 1 jam per
hari, durasi kerja 1-2 jam per hari, dan durasi kerja > 2 jam per hari. Kuesioner
BCTQ terdiri dari 11 pertanyaan, asing-masing pertanyaan memiliki skala penilaian
1 sampai 5 sesuai dengan derajat tingkat keparahan gejala. Hasil kuesioner BCTQ
di interpretasikan menjadi 5 tingkat keparahan berupa tidak ada gejala (skor <11), gejala ringan (skor 12-22), gejala sedang (skor 23-33), gejala berat (skor 34-44),
dan gejala sangat berat (skor 45-55).
Hasil penelitian ini rata-rata usia sampel adalah 48,94 tahun, lebih banyak
pada kelompok usia 50-59 tahun (39%), dan seluruhnya perempuan. Mayoritas
sampel bekerja setiap hari (42,4%) dengan durasi kerja 1 hingga 2 jam per hari
(49,2%). Didapatkan sebagian besar sampel memiliki gejala CTS, yaitu 41 sampel
(69,5%), sedangkan pengukuran tingkat keparahan CTS berdasarkan BCTQ
sebagian besar sampel memiliki gejala ringan sebanyak 28 sampel (28%). Sampel
yang bekerja 1-2 jam per hari dan >2 jam per hari cenderung memiliki gejala CTS,
didapatkan juga pada frekuensi kerja, sampel yang bekerja 4-5 hari per minggu dan
setiap hari cenderung memiliki gejala CTS. Hasil penelitian ini mendapatkan
semakin lama dan sering penjual rujak bekerja, semakin menunjukkan adanya
gejala CTS. Peneliti juga menilai tingkat keparahan CTS berdasarkan BCTQ.
Sampel yang durasi kerjanya <1 jam per hari sebagian besar tidak memiliki gejala
CTS, yaitu 8 dari 15 sampel, sedangkan sampel yang durasi kerjanya 1-2 jam per
hari dan >2 jam per hari sebagian besar memiliki tingkat keparahan CTS ringan
sedang, masing-masing 27 dan 14 sampel. Didapatkan hasil frekuensi kerja, sampel
yang bekerja 1-3 hari per minggu sebagian besar tidak memiliki gejala CTS, yaitu
6 dari 11 sampel, sedangkan yang bekerja 4-5 hari per minggu dan setiap hari
memiliki gejala CTS ringan-sedang, masing-masing 20 dan 23 sampel. Hasil
penelitian ini menunjukkan semakin lama dan sering penjual rujak bekerja akan
memiliki tingkat gejala CTS yang semakin parah. Hasil analisis data menunjukkan
hubungan nilai kekuatan antara durasi kerja dengan gejala CTS sebesar 0,361 dan
juga menunjukkan hubungan nilai antara frekuensi kerja dengan gejala CTS sebesar
0,595.Kesimpulan penelitian ini adalah menyimpulkan bahwa durasi dan
frekuensi kerja memiliki hubungan positif yang signifikan dengan gejala serta
tingkat keparahan CTS. Semakin lama durasi kerja dan semakin sering frekuensi
kerja, dapat meningkatkan risiko terjadinya CTS dan meningkatkan keparahan
CTS.
Description
Reupload file repository 24 februari 2026_agus/feren
