Peta Bakteri dan Sensitivitas terhadap Antibiotik pada Pasien Pneumonia di RSD dr. Soebandi Jember

dc.contributor.authorMira Haninda Ramadhanty
dc.date.accessioned2026-04-14T02:42:10Z
dc.date.issued2020-01-15
dc.descriptionReupload file repositori 9 april 2026 agus/dea
dc.description.abstractPneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat yang dapat disebabkan karena infeksi bakteri, virus, maupun jamur. Berdasarkan asal patogennya, pneumonia dibedakan menjadi Community Acquired Pneumonia (CAP) dan Hospital Acquired Pneumonia (HAP), baik dengan ventilator Ventilator Associated Pneumonia (VAP) atau non-ventilator. Terapi pneumonia dapat diberikan antibiotik, yang terdiri dari terapi empiris dan terapi definitif. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan peningkatan prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia meningkat dari tahun 2013, yaitu 1,6% menjadi 2,0%. Peta bakteri bermanfaat untuk mengetahui jenis bakteri, resistensi terhadap antibiotik, serta sebagai dasar penentuan terapi empiris untuk pasien. RSD dr. Soebandi Jember belum memiliki peta bakteri dan sensitivitas terhadap antibiotik pada pasien pneumonia, sehingga pada penelitian dilakukan untuk mendeskripsikan bakteri penyebab dan sensitivitas bakteri terhadap antibiotik pada pasien pneumonia. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian deskriptif. Data pada penelitian ini menggunakan data primer hasil kultur sputum dari Laboratorium Patologi Klinik dan data sekunder dari rekam medis pasien. Data diambil dari sputum pasien dengan diagnosis pneumonia pada bulan September hingga Oktober 2019. Hasil penelitian ini didapatkan 18 sampel. Terdapat 10 jenis bakteri penyebab pneumonia pada penelitian ini yaitu Acinetobacter baumanii, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes, Bukholderia cepacia, Pseudomonas fluorescens, Salmonella arizonae, Klebsiella terrigena, Escherichia coli, dan Pantoea spp. Penyebab pneumonia terbanyak dalam penelitian ini adalah A. baumanii (22%) dan K. pneumoniae (17%). Antibiotik dengan sensitivitas tertinggi pada sampel CAP adalah levofloksasin, amikasin dan tobramisin, sedangkan resistensi tertinggi terdapat pada ampisilin, sefotaksim, seftazidim, sefiksim, seftriakson, dan aztreonam. Antibiotik dengan sensitivitas tertinggi pada sampel VAP adalah amikasin, meropenem, piperasilin-tazobaktam, sedangkan resistensi tertinggi terdapat pada sefiksim, sefotaksim, dan seftriakson.
dc.description.sponsorshipDPU: dr. I Nyoman Semita, Sp.OT (K) Spine Dr. DPA : dr. M. Ali Shodikin, M. Kes., Sp.A
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/7023
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Kedokteran
dc.subjectPeta Bakteri
dc.subjectAntibiotik pada Pasien Pneumonia
dc.titlePeta Bakteri dan Sensitivitas terhadap Antibiotik pada Pasien Pneumonia di RSD dr. Soebandi Jember
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
Mira Haninda Ramadhanty-162010101058.pdf
Size:
1.17 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: