Strategi Pengembangan Infrastruktur Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Teknik

Abstract

Kabupaten Blitar dikenal sebagai sentra budidaya ikan koi di Indonesia, dengan Kecamatan Nglegok ditetapkan sebagai kawasan minapolitan perikanan budidaya melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. 35/KEPMEN-KP/2013 dan Peraturan Daerah Kabupaten Blitar No. 5 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Blitar Tahun 2011-2031. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, salah satu faktor Kecamatan Nglegok menjadi pusat kawasan minapolitan ikan koi karena memiliki jumlah rumah tangga pembudidaya ikan koi terbanyak, yaitu 472 dari total 2.692 rumah tangga di Kabupaten Blitar. Seiring berkembangnya sektor perikanan budidaya, kebutuhan akan infrastruktur yang memadai menjadi krusial untuk mendukung pengembangan kawasan secara optimal. Namun, sarana dan prasarana pendukung industrialisasi perikanan budidaya masih belum dikelola secara optimal. Oleh karena itu, Kabupaten Blitar sebagai sentra budidaya ikan koi berkualitas di Indonesia memiliki urgensi untuk menyediakan infrastruktur yang memadai dalam mewujudkan pembangunan kawasan minapolitan perikanan budidaya. Penelitian ini melewati tiga tahap analisis. Pertama, analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting infrastruktur. Kedua, Importance Performance Analysis (IPA) digunakan untuk menentukan tingkat kinerja dan kepentingan infrastruktur. Ketiga, Force Field Analysis (FFA) digunakan untuk merumuskan strategi pengembangan infrastruktur kawasan minapolitan perikanan budidaya di Kecamatan Nglegok. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Nglegok, yang memiliki potensi perikanan budidaya dan telah diakui secara nasional sebagai salah satu sentra ikan hias berkualitas, khususnya ikan koi. Sampel penelitian ini menggunakan 35 responden pembudidaya ikan untuk analisis IPA dan 5 stakeholder yang berperan dalam pengelolaan serta penetapan kebijakan untuk analisis FFA. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan kondisi eksiting, ketersediaan infrastruktur kawasan minapolitan sudah cukup memadai. Berdasarkan analisis IPA, tingkat kesesuaian infrastruktur menunjukkan nilai 73,86%, yang berarti kesesuaian antara tingkat kinerja dan kepentingan infrastruktur tergolong cukup baik. Pada diagram kartesius IPA kuadran I, infrastruktur yang memerlukan prioritas perbaikan, yaitu jaringan jalan, irigasi, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), dan Unit Pembenihan Ikan (UPI). Pada kuadran II, infrastruktur yang perlu dipertahankan kinerjanya, yaitu jaringan air bersih, listrik, telekomunikasi, lembaga keuangan, dan laboratorium. Pada kuadran III, infrastruktur yang memiliki prioritas rendah, yaitu jaringan persampahan, drainase, dan fasilitas pemasaran ikan, sedangkan pada kuadran IV tidak ada infrastruktur yang perlu dibatasi pemanfaatannya. Sementara itu, berdasarkan hasil analisis FFA, strategi yang diusulkan meliputi: peninjauan dan penyempurnaan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kawasan Minapolitan Kecamatan Nglegok, integrasi rencana minapolitan ke dalam program pembangunan infrastruktur, optimalisasi perbaikan infrastruktur yang mendukung produksi dan distribusi, serta penguatan koordinasi lintas sektor.

Description

Reupload File Repositori 6 Februari 2026_Teddy/Hendra

Keywords

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By