Life Cycle Assessment (LCA) Pengolahan Kopi Robusta (Coffea canephora) pada Proses Natural Pecah Kulit (Studi Kasus KUPS Kopi Rengganis)
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar di dunia dengan
produksi mencapai 813.345 ton pada tahun 2024, didominasi oleh kopi robusta
yang menyumbang sekitar 94% dari total ekspor nasional. Kabupaten Jember
menjadi salah satu sentra produksi kopi robusta di Jawa Timur, termasuk KUPS
Kopi Rengganis yang menerapkan metode natural pecah kulit karena mampu
menghemat penggunaan air serta menghasilkan cita rasa kopi yang khas. Namun,
proses pengolahannya masih bergantung pada Pertalite, solar, LPG, dan listrik
yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca dan pencemaran lingkungan.
Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA)
untuk menganalisis penggunaan energi dan emisi, mengevaluasi dampak
lingkungan berdasarkan kategori Global Warming Potential (GWP), Acidification
Potential (AP), dan Eutrophication Potential (EP), serta merumuskan
rekomendasi perbaikan.
Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara mengenai proses
pengolahan, neraca massa, konsumsi energi, serta input-output setiap tahapan,
sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur dan dokumen perusahaan.
Analisis mengikuti tahapan LCA berdasarkan ISO 14040:2006, meliputi goal and
scope definition, Life Cycle Inventory (LCI), Life Cycle Impact Assessment
(LCIA) menggunakan metode CML 2001 pada software OpenLCA, serta
interpretasi hasil untuk mengidentifikasi environmental hotspot dan menyusun
rekomendasi perbaikan. Perhitungan neraca massa dan energi dilakukan
menggunakan Microsoft Excel, sedangkan karakterisasi dampak lingkungan
dilakukan menggunakan OpenLCA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan 200 kg buah kopi
membutuhkan total energi sebesar 178,61 MJ, dengan tahap roasting sebagai
konsumen energi terbesar (102,77 MJ) sekaligus environmental hotspot karena
menghasilkan emisi CO2, CH4, N2O, SO2, dan NOx tertinggi. Analisis dampak
lingkungan menunjukkan nilai GWP sebesar 18,76068 kg CO2 eq, EP sebesar
1,34556 kg PO4
3-
eq, dan AP sebesar 0,09110 kg SO2 eq. Tingginya GWP
dipengaruhi oleh penggunaan LPG pada proses roasting, sedangkan EP berasal
dari kombinasi emisi NOx hasil pembakaran bahan bakar serta kandungan
nitrogen dan fosfor pada limbah kulit kopi, sementara AP dipengaruhi oleh emisi
SO2 dan NOx dari pembakaran bahan bakar fosil. Berdasarkan hasil tersebut,
strategi perbaikan yang direkomendasikan adalah optimalisasi kapasitas batch
roasting dari 2 kg menjadi 4 kg per batch untuk meningkatkan efisiensi energi dan
menurunkan emisi
Description
Validasi file repositori 20 Agustus 2026_Firli
