Pengaruh Hormon Auksin dan Klon Batang Atas terhadap Pertumbuhan Bibit Sambung Stek Kopi Robusta (Coffea canephora L.)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Kopi merupakan salah satu ekspor hasil perkebunan yang memiliki nilai
ekonomis tinggi diantara tanaman budidaya perkebunan lain. Kopi robusta (Coffea
canephora L) merupakan salah satu jenis tanaman kopi dengan rasa pahit,
kandungan kafein yang lebih tinggi dan karakteristik yang berbeda dari kopi
arabika. Permasalahan dari kopi robusta adalah pada pertumbuhan kopi mengalami
kesulitan dalam pembentukkan akar yang kuat, yang memungkinkan adanya zat
pengatur tumbuh (ZPT) untuk meningkatkan pertumbuhan akar tersebut. Hormon
tumbuhan paling penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah
Auksin.
Salah satu produk yang mengandung hormon auksin adalah Rootone F,serta
auksin alami salah satunya ekstrak bawang merah, biasanya digunakan dalam
praktik perbanyakan tanaman secara vegetatif. Dengan menerapkan perbanyakan
secara vegetatif, tanaman dapat memperoleh manfaat tambahan seperti
pertumbuhan lebih cepat, sifat turunan sama dengan induknya, dan tanaman yang
dapat diproduksi dengan cepat. Perbanyakan secara vegetatif adalah
perkembangbiakkan yang menghasilkan tanaman baru dengan menggunakan
bagian-bagian tanaman seperti batang, akar, dan cabang (Emenecker & Strader,
2020) .Teknik sambung stek adalah penggabungan antara teknik sambung
(grafting) dan stek (Arunyanark et al., 2022) . Teknik ini menggabungkan dua klon
kopi yang memiliki sifat unggul yang berbeda sebagai batang atas dan batang
bawah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hormon auksin Rootone
F serta auksin alami dari bawang merah dan penggunaan macam klon batang atas
terhadap pertumbuhan bibit stek kopi jenis Coffea Robusta. Penelitian inimenggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor
pertama adalah macam hormon auksin yang terdiri dari 4 taraf, yaitu ekstrak
bawang merah (auksin alami) konsentrasi 50% (A1), rootone f (auksin sintetis)
konsentrasi 400 ppm (A2), ekstrak bawang merah konsentrasi 50% + rootone f
konsentrasi 400 ppm (A3), ekstrak bawang merah 75% + rootone f konsentrasi 200
ppm (A4). Faktor kedua adalah macam klon yang terdiri 2 taraf, yaitu klon BP 939
dan klon BP 936. Adapun variabel yang diamati yaitu persentase stek hidup (%),
tinggi tanaman (cm), panjang akar primer/stek (cm), volume akar (dm3), jumlah
daun (helai), diameter tunas (mm), panjang tunas (cm), dan berat segar tanaman (g).
Data hasil pengamatan kemudian dianalisis menggunakan Sidik Ragam dan apabila
menunjukkan pengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut dengan Uji Jarak Berganda
Duncan pada taraf 5%.
Hasil penelitian menujukkan bahwa (1) Interaksi antara pemberian macam
hormon auksin dan klon batang bawah pada bibit sambung stek kopi robusta
berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh variabel pengamatan, (2) Pemberian
macam hormon auksin pada bibit sambung stek kopi robusta berpengaruh nyata
terhadap variabel pengamatan panjang akar primer/stek. Perlakuan A4 (ekstrak
bawang merah 75% + rootone f konsentrasi 200 ppm) memberikan kecenderungan
terbaik pada variabel pengamatan panjang akar primer/stek, (3) Penggunaan macam
klon batang bawah pada bibit sambung stek kopi robusta berpengaruh nyata
terhadap variabel pengamatan panjang akar primer/stek dan jumlah daun. Perlakuan
K2 (BP 936) memberikan kecenderungan terbaik pada variabel pengamatan
panjang akar primer/stek dan jumlah daun. Pada penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa tidak adanya interaksi dari seluruh variabel pengamatan.
Description
Reupload file repository 11 februari 2026_agus/feren
