Penerimaan Masyarakat Terhadap Identitas Gender: Analisis Upaya Waria Dalam Mencapai Pengakuan Sosial di Stasiun Jember, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Abstract

Kelompok waria merupakan bagian dari masyarakat yang masih menghadapi diskriminasi dan stigma sosial, terutama dalam ruang publik yang dikuasai oleh norma-norma heteronormatif dan patriarkal. Di kawasan Stasiun Jember, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, waria berjuang untuk memperoleh pengakuan sosial dan ruang eksistensi yang setara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya-upaya yang dilakukan oleh waria dalam menegosiasikan identitas gendernya dan memperoleh penerimaan sosial dari masyarakat sekitar. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana bentuk strategi individual maupun kolektif yang digunakan oleh waria dalam merespons penolakan sosial dan membentuk interaksi sosial yang konstruktif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, untuk menggali secara mendalam pengalaman hidup dan makna sosial dari tindakan waria sebagai kelompok gender non-normatif. Data diperoleh melalui teknik observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tujuh informan utama, yang terdiri dari waria non-komunitas, anggota komunitas OGAWA, serta masyarakat sekitar. Kerangka teori yang digunakan adalah teori performativitas gender dari Judith Butler, yang memandang gender sebagai konstruksi sosial yang dibentuk melalui tindakan berulang; serta teori stigma dari Erving Goffman, yang menyoroti proses pelabelan negatif dan strategi manajemen identitas yang digunakan oleh individu yang distigmatisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya waria dalam memperoleh pengakuan sosial dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, pendekatan individual oleh waria non-komunitas dilakukan melalui relasi sosial yang pragmatis, menjaga citra diri, menunjukkan sikap kooperatif, serta memilih waktu dan tempat aktivitas secara strategis untuk menghindari konflik langsung. Kedua, pendekatan kolektif melalui komunitas OGAWA dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan, advokasi hak asasi, serta keterlibatan dalam aksi sosial bersama masyarakat. Hasil dari upaya-upaya ini menunjukkan adanya peningkatan interaksi sosial yang lebih terbuka, terbentuknya solidaritas terbatas dengan warga sekitar, serta munculnya ruang negosiasi sosial yang memungkinkan penerimaan parsial terhadap eksistensi waria. Strategi ini menunjukkan bentuk resistensi kultural terhadap sistem gender biner dan memberikan makna baru atas keberadaan waria dalam ruang publik.

Description

Reupload Repositori File 04 Maret 2026_Kholif Basri

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By