Analisis Fase Simbolik Pada Mise en Scene Tokoh Mahir Dalam Music Video “Si Paling Mahir” : Kajian Psikoanalisis Jacques Lacan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
fakultas ilmu budaya
Abstract
Music video merupakan bentuk karya audiovisual yang menggabungkan
elemen musik dan visual untuk menyampaikan pesan, emosi, atau tema dan makna
tertentu yang sering kali tidak dapat disampaikan hanya melalui verbal. Sebagai
produk budaya populer dalam industri hiburan, music video tidak hanya berfungsi
sebagai media promosi untuk memperkenalkan lagu dan artis kepada khalayak luas
tetapi juga sebagai bentuk seni yang menghadirkan pengalaman visual yang selaras
dengan musik. Music video memadukan unsur naratif dan unsur sinematik
sebagaimana film, sehingga dapat dianalisis dengan pendekatan teoritis, termasuk
psikoanalisis. Music video Si Paling Mahir karya Raisa Andriana menjadi objek
kajian pada penelitian ini karena menampilkan narasi emosional tentang individu
yang diharapkan menjadi sosok andalan tetapi menyimpan beban psikologis sendiri
secara tersembunyi. Tokoh Mahir digambarkan mengalami pertengkaran batinn
karena mempertahankan citra sebagai pribadi tangguh, sementara di balik itu
terdapat kebutuhan akan dukungan dan pengakuan atas kelemahannya.
Penelitian music video Si Paling Mahir berangkat dari pemahaman pada
unsur-unsur pembentuk film dan psikoanalisis milik Jacques Lacan. Kajian ini
memanfaatkan unsur naratif dan unsur sinematik khususnya mise en scene dengan
dukungan sinematografi pada type of shot, serta tata suara untuk membantu aspek
narasi pada dialog dan keselarasan lirik lagu dengan visual. Penggunaan teori
psikoanalisis Jacques Lacan pada penelitian ini berfokus pada fase the symbolic
dengan fase the real dan the imaginary sebagai kerangka pendukung dalam
menjelaskan perjalanan dalam dinamika emosional dari tokoh Mahir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi psikologis tokoh Mahir dapat
diketahui melalui mise en scene dan naratif dari adegan yang diperankan dalam
music video tersebut. Perasaan kekurangan (lack) mulai muncul saat Mahir
mengalami penolakan dari figur Ibu yang tidak mendukung keinginannya. Namun dalam perjalanannya. Sepanjang perjalanan naratif tokoh Mahir, ia mengalami
tahapan-tahapan sesuai kerangka Lacanian yaitu fase the imaginary yang tercermin
pada pencarian identitas diri dan ilusi keberhasilan, sedangkan fase the real hadir
dalam bentuk kenangan masa lalu atau flashback dari Ibu pada saat Mahir masih
kecil. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk subjektivitas Mahir. Menuju
akhir dalam music video Si Paling Mahir memperlihatkan kepulangan tokoh Mahir
yang dapat diartikan sebagai upaya melepaskan diri dari penjara simbolik yang
selama ini membentuk identitasnya. Penelitian ini menegaskan bahwa dalam
kerangka Lacanian, hasrat (desire) bukan sesuatu yang tetap atau melekat permanen
pada subjek, melainkan selalu berubah dan didorong oleh kekosongan atau
kekurangan (lack) yang tidak pernah benar-benar terisi. Perasaan kosong atau
kekurangan (lack) menjadi penggerak dalam sebuah proses simbolik yang terus
berlangsung dan tak pernah usai dalam kehidupan manusia.
Description
Reupload file repository 6 februari 2026_agus/feren
