Hubungan Usia Kehamilan Remaja dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 12-24 Bulan dalam Keluarga di Kabupaten Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Stunting merupakan kondisi seseorang mengalami gangguan pertumbuhan dan gizi yang menyebabkan tinggi badan tidak sesuai dengan usia, perkembangan psikologis yang terhambat, serta keterlambatan dalam kemampuan bicara dan berjalan. Stunting dapat terdeteksi sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berdampak signifikan pada tumbuh kembang balita terutama usia 12-24 bulan. Balita yang mengalami stunting sering menunjukkan keterlambatan perkembangan motorik seperti berjalan, kemampuan bicara, serta fungsi sensorik. Salah satu penyebab terjadinya stunting yaitu kehamilan di usia remaja. Usia kehamilan remaja dapat menyebabkan kejadian stunting dikarenakan ketidaksiapan remaja dalam memasuki fase kehamilan, melahirkan, dan perubahan peran yang akan terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia kehamilan remaja dengan kejadian stunting pada balita usia 12-24 bulan di Kabupaten Jember. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif mengunakan desain retrospektif dengan pendekatan secara case control. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data berupa karakteristik demografi ibu beserta balita dan pengukuran tinggi serta berat badan balita menggunakan length board. Sampel penelitian berjumlah 69 pada kelompok kasus dan 69 pada kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode stratified random sampling. Untuk analisis statistik pada penelitian ini menggunakan uji Chi-square. Penelitian ini memuat prisip etik sesuai dengan WHO (2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian stunting di ketiga wilayah tersebut sebanyak 56,52% dengan sebaran 35,51% balita berasal dari riwayat usia ibu hamil ≤18 tahun dan 21,01% berasal dari riwayat usia ibu hamil >18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian stunting dapat dilhat pada indikator TB/U balita yang dibuktikan dengan nilai p-value 0,001 yang diartikan bahwa tinggi badan balita tidak sesuai dengan usianya. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara usia kehamilan remaja dengan kejadian stunting (χ2 = 11,795 dan p-value = 0,001) dan nilai OR menunjukkan hasil 3,379 yang artinya usia kehamilan remaja 3,4 kali lebih berisiko dibandingkan usia kehamilan dewasa. Ketidaksiapan fisik dan psikologis remaja untuk kehamilan, melahirkan, dan nifas, dapat mengganggu pertumbuhan janin sehingga meningkatkan risiko stunting. Kesiapan fisik meliputi kematangan sistem reproduksi, sementara ketidaksiapan psikologis dapat menyebabkan stres akibat perubahan peran. Oleh karena itu, keluarga berperan penting dalam edukasi kesehatan reproduksi, perencanaan pernikahan dan kelahiran, serta pemenuhan nutrisi ibu hamil dan balita untuk mencegah kejadian stunting. Perawat dapat berperan dalam memberdayakan keluarga untuk mencegah terjadinya stunting dengan mengedukasi keluarga terkait risiko kehamilan di usia remaja, menyediakan layanan kesehatan yang memadai, dan melakukan skrinning gizi pada ibu hamil terutama remaja dan balita untuk mendeteksi dini risiko kekurangan gizi dan stunting.

Description

Reupload file repositori 9 februari 2026_PKL Fani/Firli

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By