Konsumerisme Petani Tembakau: Studi Kasus Desa Paiton
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Penelitian ini mengeksplorasi fenomena konsumerisme di kalangan petani tembakau di Desa Paiton, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang mengalami pergeseran gaya hidup akibat keberhasilan ekonomi di sektor pertanian. Desa Paiton, yang dikenal sebagai salah satu sentra utama produksi tembakau di Indonesia, memiliki kondisi geografis, tanah, dan iklim yang ideal untuk pertanian tembakau. Dengan pendapatan yang meningkat dari hasil panen, petani di desa ini telah mengubah pola konsumsi mereka, dari yang semula berbasis kebutuhan menjadi konsumsi simbolis yang menonjolkan status sosial. Pertanian tembakau telah lama menjadi sumber utama penghidupan di Desa Paiton. Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi pertanian, peningkatan permintaan pasar, dan dukungan pemerintah telah memungkinkan petani tembakau di desa ini meningkatkan produksi dan pendapatan mereka. Namun, perubahan ini juga memengaruhi pola hidup mereka, terutama dalam hal konsumsi. Petani kini mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka untuk membeli barang-barang non-esensial, seperti pakaian bermerek, aksesoris mahal, dan barang berharga lainnya. Pola ini mencerminkan fenomena konsumerisme yang tidak hanya didorong oleh peningkatan pendapatan tetapi juga oleh pengaruh media sosial, tekanan sosial, dan interaksi dengan komunitas sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola konsumsi para petani tembakau, faktor-faktor yang mendorong perubahan gaya hidup konsumtif mereka, dan dampaknya terhadap kehidupan sosial-ekonomi mereka. Peneliti menggunakan teori konsumerisme yang dikembangkan oleh Jean Baudrillard untuk menganalisis perubahan pola konsumsi di kalangan petani tembakau. Baudrillard berpendapat bahwa dalam masyarakat modern, konsumsi bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan material, melainkan telah menjadi sistem tanda yang mencerminkan identitas sosial dan status seseorang. Dalam konteks ini, barang-barang yang dikonsumsi oleh petani tidak lagi dilihat dari nilai gunanya, tetapi lebih kepada apa yang dilambangkan oleh barang tersebut dalam masyarakat. Misalnya, pakaian bermerek, aksesoris mewah, dan kendaraan mahal bukan hanya digunakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan sehari-hari, melainkan juga sebagai simbol status dan keberhasilan. Penerapan teori ini membantu peneliti dalam memahami fenomena konsumerisme yang terjadi di Desa Paiton.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang memungkinkan peneliti untuk mendalami pengalaman, pandangan, dan perilaku petani terkait konsumerisme. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Teknik wawancara tidak terstruktur digunakan untuk menggali informasi secara mendalam dari lima informan utama, yaitu petani tembakau pemilik lahan dan tokoh masyarakat di Desa Paiton. Selain itu, teori konsumerisme Jean Baudrillard menjadi kerangka analisis utama untuk memahami bagaimana konsumsi barang tidak lagi didasarkan pada kebutuhan material tetapi pada nilai simbolis yang mencerminkan status sosial dan citra diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani tembakau di Desa Paiton mengalami peningkatan konsumsi terhadap barang-barang non-esensial seperti pakaian bermerek, aksesoris mewah, dan barang-barang berharga lainnya. Peningkatan pendapatan dari hasil pertanian tembakau berperan besar dalam memperkuat gaya hidup konsumtif ini. Selain itu, media sosial dan interaksi dengan komunitas sekitar semakin mendorong petani untuk terlibat dalam perilaku konsumtif guna menunjukkan kesuksesan mereka
Description
Reupload file repositori 26 Jan 2026_Maya
