Optimasi Distribusi Dosis Proton Therapy Pada Kanker Serviks Menggunakan PHITS (Particle And Heavy Ion Transport Code System) Versi 3.35
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Abstract
Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada
perempuan di Indonesia. Radioterapi konvensional berbasis foton memiliki
keterbatasan berupa deposisi energi yang tidak selektif sehingga jaringan sehat di
sekitar tumor ikut terpapar radiasi secara signifikan. Proton therapy hadir sebagai
modalitas yang lebih presisi melalui fenomena Bragg peak dan Spread-Out Bragg
Peak (SOBP) yang memfokuskan dosis maksimum pada volume tumor sekaligus
melindungi jaringan sehat di belakang target. Namun, efektivitas klinis proton
therapy sangat bergantung pada konfigurasi sudut penyinaran yang digunakan,
sehingga penentuan sudut yang optimal untuk kasus tertentu masih memerlukan
kajian kuantitatif lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menentukan konfigurasi
sudut penyinaran proton therapy yang paling optimal pada kanker serviks stadium
IIB menggunakan simulasi Monte Carlo berbasis PHITS versi 3.35.
Phantom pelvis tiga dimensi dibangun mengacu pada ICRP Publication
145 dengan volume target berbasis pendekatan MRI-guided (GTV 43,00 cm³,
CTV 91,95 cm³, PTV ketebalan 6,6 cm) dan lima OAR: kandung kemih, rektum,
usus halus, ovarium, dan kolon sigmoid. Tiga sudut penyinaran dipilih
berdasarkan pendekatan anterior dan anterior-oblique yang secara anatomis
meminimalkan lintasan berkas melalui organ risiko di area pelvis, yaitu 0° (AP),
45° (RAO), dan 315° (LAO), dengan rentang energi 123–164 MeV untuk sudut 0°
serta 151–188 MeV untuk sudut 45° dan 315°. Validasi simulasi terhadap data
PSTAR NIST menghasilkan galat relatif maksimal 3,43%, menyatakan model
valid. Penentuan konfigurasi sudut paling optimal dilakukan dengan mengevaluasi
dua kriteria utama secara simultan, yaitu kesesuaian dosis target terhadap dosis
preskripsi dan kepatuhan dosis OAR terhadap ambang batas klinis, yang
selanjutnya dikuantifikasi melalui metrik Dose Efficiency Index (DEI) berupa
rasio dosis rata-rata target terhadap dosis rata-rata komposit seluruh OAR.
Hasil menunjukkan SOBP berhasil membentuk daerah flat-top sepanjang
6,6 cm pada ketiga sudut. Dosis GTV pada variasi 1 (0°/AP) mencapai 50,76
Gy(RBE) atau 100,72% dari dosis preskripsi, sedangkan variasi 2 dan 3
mengalami overdosis sekitar 10%. Cakupan CTV berkisar 76,96–79,69% dan
PTV 47,14–51,76% akibat keterbatasan single-field tanpa optimasi weighting
factor. Variasi 1 menjadi satu-satunya konfigurasi yang memenuhi seluruh
ambang batas klinis kelima OAR; variasi 2 dan 3 menghasilkan dosis ovarium
melebihi batas 6 Gy(RBE). Nilai DEI tertinggi diperoleh pada variasi 1 sebesar
73,33, disusul variasi 2 (25,64) dan variasi 3 (20,73). Disimpulkan bahwa variasi
1 (0°/AP) merupakan konfigurasi paling optimal. Penelitian lanjutan disarankan
menggunakan optimasi weighting factor SOBP dan pendekatan multi-field untuk
meningkatkan cakupan CTV dan PTV
Description
Finalisasi Repository/HASYIM Agustus 2026
