Analisis Kepatuhan Minum Obat Pasien Skizofrenia pada Masa Rehabilitasi Berdasarkan Teori L. Green di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstract

Gangguan jiwa masih menjadi tantangan di tengah masyarakat yang dapat mengakibatkan penderitaan baik secara mental maupun materi baik ditanggung oleh pengidap gangguan jiwa dan keluarga. Data WHO menyatakan bahwa 24 juta orang menderita skizofrenia dan berdasarkan data hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menyatakan bahwa jumlah rumah tangga yang memiliki ART dengan gangguan jiwa menurut provinsi di Indonesia sebesar 315.621 jiwa. Kemudian jumlah pasien skizofrenia di provinsi Jawa Timur menempati urutan kedua tertinggi setelah provinsi Jawa Barat sebesar 50.588 jiwa. Kemudian pada hasil data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2023 menyatakan bahwa Kabupaten Jember menempati urutan terendah untuk kategori pemberian pelayanan ODGJ yaitu (62,9%). Jumlah ODGJ di Kabupaten Jember juga mengalami peningkatan, yaitu sebesar (90,6%) atau 2.481 jiwa pada tahun 2022 menjadi 4.731 jiwa pada tahun 2023. Kecamatan Sumbersari menempati posisi pertama jumlah sasaran ODGJ tertinggi yaitu 256 jiwa dan paling besar di Puskesmas Sumbersari sejumlah 170 sasaran ODGJ berat dengan 94 skizofrenia dan 3 psikotik akut. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti menyatakan bahwa pasien skizofrenia yang berada pada masa rehabilitasi berjumlah 28 jiwa dengan kriteria 22 patuh minum obat dan 6 tidak patuh minum obat. Skizofrenia merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa berat karena masa pengobatannya yang lama dan membutuhkan perhatian yang lebih. Masa pengobatan pasien skizofrenia paling panjang adalah masa pemeliharaan (rehabilitasi) sebab risiko terjadinya kekambuhan pada pasien lebih besar sehingga peran keluarga sebagai motivator, edukator, dan fasilitator sangat penting untuk selalu diterapkan. Pada teori Lawrence Green juga mengungkapkan bahwa terbentuknya perilaku didasarkan atas tiga faktor yaitu predisposisi, pemungkin dan penguat yang terkait dengan terbentuknya peran keluarga terhadap kepatuhan minum obat pasien skizofrenia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengalisis peran keluarga terhadap kepatuhan minum obat pasien skizofrenia pada masa rehabilitasi di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember. Adapun desain penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan dokumentasi kepada informan. Hasil penelitian yang didapatkan adalah pada faktor predisposisi diketahui pengetahuan dan pemahaman terkait dengan gangguan jiwa skizofrenia serta kepatuhan minum obat masih cenderung minim diketahui oleh keluarga. Adapun mayoritas keluarga menyatakan bahwa penyebab pasien mengalami skizofrenia adalah karena faktor lingkungan dengan gejala positif seperti halusinasi, perilaku kekerasan, dan self-harm. Kemudian mengenai kepercayaan keluarga juga dipengaruhi oleh pengetahuan termasuk membawa pasien berobat ke dukun atau kyai sebagai bentuk pengobatan pertama kali, selanjutnya baru dibawa kepada pengobatan farmakologi. Pada faktor pemungkin mengenai ketersediaan obat dan akses ke pelayana kesehatan lebih didukung dengan peran serta petugas kesehatan atau penanggung jawab program kesehatan jiwa tiap wilayah, dimana hanya dua keluarga yang menyediakan kebutuhan obat secara mandiri. Faktor pendukung yaitu peran keluarga sebagai motivator, edukator, dan fasilitator diketahui juga belum terlaksana dengan baik dan keluarga harus terus memberikannya kepada pasien guna mendukung keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Selajutnya minimnya pengetahuan keluarga juga berdampak terhadap kesalahan perilaku kepatuhan minum obat seperti tidak patuh dalam minum obat sesuai dengan arahan dari tenaga kesehatan, baik secara jadwal, dosis, dan ketuntasan minum obat. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa mayoritas keluarga pengasuh (caregiver) berjenis kelamin perempuan dan beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Kemudian ketiga faktor pembentuk perilaku keluarga terhadap kepatuhan minum obat selain dipengaruhi oleh keluarga juga didukung oleh petugas kesehatan. Adapun ketiga peran keluarga yang diteliti paling banyak diberikan oleh keluarga kepada pasien adalah sebagai motivator dan edukator dengan jumlah pasien tidak patuh minum obat adalah empat pasien serta patuh minum obat adalah tiga pasien.

Description

Rreupload Repository 26 Januari 2026_Maya

Keywords

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By