Klasifikasi Bobot Semangka Berdasarkan Citra Digital Menggunakan Algoritma YOLOv11
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Informasi mengenai bobot buah semangka merupakan salah satu aspek
penting dalam proses produksi benih karena berkaitan dengan potensi jumlah biji
yang dihasilkan. Di PT East West Seed Indonesia, penentuan bobot semangka
masih dilakukan melalui penimbangan secara manual di lapangan. Proses tersebut
memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang cukup besar serta berisiko
menimbulkan kesalahan dalam pencatatan data. Oleh sebab itu, diperlukan suatu
sistem yang mampu melakukan klasifikasi bobot semangka secara otomatis, cepat,
dan akurat.
Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan algoritma You Only Look
Once version 11 (YOLOv11) untuk mengklasifikasikan bobot semangka
berdasarkan citra digital serta mengevaluasi performa model menggunakan metrik
precision, recall, mAP@50, dan mAP@50–95. Penelitian dilaksanakan pada bulan
September hingga April di lahan PT East West Seed Indonesia yang berlokasi di
Kabupaten Jember dan Kabupaten Lamongan, sedangkan proses pengolahan serta
analisis data dilakukan di UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas
Jember.
Data yang digunakan meliputi bobot aktual semangka dan citra digital hasil
akuisisi menggunakan drone pada ketinggian 10 meter dan 15 meter. Bobot
semangka dikelompokkan ke dalam delapan kelas berdasarkan standar ASEAN,
mulai dari kelas 1 dengan bobot kurang dari 2,0 kg hingga kelas 8 dengan bobot
lebih dari 7,5 kg. Citra hasil pengambilan kemudian diolah menjadi orthophoto dan
diberi anotasi menggunakan perangkat lunak QGIS dengan metode segmentasi.
Selanjutnya, orthophoto dipotong menjadi citra berukuran 640 × 640 piksel agar
sesuai dengan ukuran masukan model YOLOv11. Dataset penelitian terdiri atas 560
citra pada masing-masing ketinggian. Data tersebut dibagi menjadi data pelatihan,
validasi, dan pengujian dengan rasio 80:10:10. Proses pelatihan model dilakukan
selama 150 epoch menggunakan platform Kaggle dengan dukungan GPU T4 ×2.
Hasil pelatihan menunjukkan bahwa model mampu mempelajari karakteristik
data dengan baik, yang ditandai oleh penurunan nilai loss serta peningkatan nilai
metrik evaluasi secara bertahap hingga mencapai kondisi yang stabil. Model yang
dilatih menggunakan citra pada ketinggian 10 meter memperoleh nilai precision
sebesar 0,93, recall sebesar 0,98, mAP@50 sebesar 0,98, dan mAP@50–95 sebesar
0,65. Sementara itu, model pada ketinggian 15 meter menghasilkan nilai precision
sebesar 0,94, recall sebesar 0,94, mAP@50 sebesar 0,95, dan mAP@50–95 sebesar
0,58.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, model yang menggunakan citra hasil
pengambilan pada ketinggian 10 meter menunjukkan performa yang lebih unggul
dibandingkan model pada ketinggian 15 meter. Hal ini disebabkan oleh ukuran
objek semangka yang lebih besar dan detail visual yang lebih jelas pada citra,
sehingga model dapat mengenali karakteristik objek dengan lebih baik dan
menghasilkan tingkat deteksi yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, penelitian ini
membuktikan bahwa algoritma YOLOv11 mampu mengklasifikasikan bobot
semangka berdasarkan citra digital dengan tingkat performa yang tinggi. Sistem
yang dikembangkan berpotensi mendukung digitalisasi proses estimasi produksi
benih serta menjadi salah satu alternatif penerapan teknologi pertanian presisi
berbasis pengolahan citra digital dan kecerdasan buatan pada masa mendatang.
Description
Validasi file repositori 19 Agustus 2026_Firli
