“Karakteristik Scaffold Hidroksiapatit Limbah Dental Gypsum Tipe II (DGHA II)-Gelatin Menggunakan Metode Freeze Drying dengan Rasio Komposisi yang Berbeda
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran Gigi
Abstract
Scaffold merupakan suatu kerangka jaringan atau material penyangga yang
berbentuk tiga dimensi (3D) berfungsi untuk menggantikan tulang yang
mengalami kecacatan sehingga terjadi regenerasi jaringan. Scaffold yang ideal
harus memiliki sifat biokompatibilitas, biodegradabilitas, osteokonduktif,
osteoinduktif, oseointegratif, sifat mekanik sesuai, dan porositas yang dapat
mendukung pertumbuhan jaringan tulang. Hidroksiapatit Ca10(PO4)6(OH)2
merupakan biomaterial yang banyak digunakan sebagai scaffold karena memiliki
sifat biokompatibel, osteoinduktif, osteokonduktif, serta osteointegratif, akan
tetapi hidroksiapatit juga memiliki kekurangan yaitu terkait dengan yaitu rapuh,
tidak dapat menahan beban, waktu degradasi yang lama dan porositasnya yang
kurang sesuai dengan syarat ideal scaffold. Untuk menyempurnakan sifat mekanik
dan porositas hidroksiapatit, dapat dilakukan modifikasi pembuatan komposit
dengan menambahkan polimer sebagai serat/ agar didapatkan komposit yang lebih
cocok dengan karakteristik mekanik dan porositas yang sesuai untuk implan
tulang yang lebih kuat. Polimer yang dapat digunakan adalah gelatin yang bersifat
elastis. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pembuatan scaffold DGHA
II-Gelatin dengan rasio komposisi yang berbeda menggunakan metode freeze
drying kemudian melakukan karakterisasi dengan melihat morfologi, porositas
dan kekuatan tekannya.
Hidroksiapatit didapatkan dari hasil sintesis limbah dental gypsum tipe II
(DGHA II) dengan menggunakan metode hidrotermal. Gelatin yang digunakan
didapatkan dari Laboratorium Bio Analitika Surabaya yang berasal dari tulang
sapi. Sampel dibuat dengan menggabungkan 2 material tersebut dengan 3 variasi
komposisi hidroksiapatit pada masing-masing kelompok yaitu DGHA II 25%
Gelatin, DGHA II 50%-Gelatin, dan DGHA II 75%-Gelatin kemudian di freeze
drying. Hasil sintesis scaffoldnya kemudian di uji karakteristik dengan SEM, uji
porositas dan uji sifat mekanis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok sampel memiliki
karakteristik yang berbeda. Karakterisasi SEM pada semua kelompok terlihat
memiliki tepi pori yang ireguler, struktur pori yang terkoneksi, dan ukuran yang
tidak homogen. Pada ukuran diameter pori dan luas pori menunjukkan hasil yang
berbeda pada setiap kelompok. Secara berurutan dari yang terbesar hingga kecil
adalah scaffold DGHA II 25%-Gelatin memiliki range diameter pori 146,23 –
515,44 µm serta range luas pori 5112,09-9379,53 µm2, scaffold DGHA II 50%
Gelatin memiliki range diameter pori 93,86 – 262,87 µm dan range luas pori
3418,85-10619,37 µm2, dan DGHA II 75%-Gelatin memiliki range diameter pori
78,81 – 141,22 µm dan range luas pori 2161,56-8998,44 µm2.
Karakteristik prosentase porositas menunjukkan hasil yang berbeda setiap
kelompok. Secara berurutan dari yang terbesar hingga kecil adalah pada scaffold
DGHA II 25%-Gelatin memiliki porositas 90,44%, scaffold DGHA II 50%
Gelatin 84,02% dan scaffold DGHA II 75%-Gelatin 81,57%.
Karakteristik sifat mekanik menunjukkan hasil yang berbeda setiap
kelompok. Pada DGHA II 25%-Gelatin kekuatan tekannya paling rendah yaitu
1,82 MPa dengan modulus elastisitas 348,83 MPa, scaffold DGHA II 50%
Gelatin dengan kekuatan tekan terbesar kedua yaitu 2,19 MPa dan modulus
elastisitas 7994,41 MPa, dan scaffold DGHA II 75%-gelatin yang kekuatan
tekannya paling besar yaitu 2,48 MPa dengan modulus elastisitas 5377,82 MPa.
Description
reupload file repository 6 april 2026 izza/tofik
