Perbedaan Profil Leukosit pada Pasien dengan Ketuban Pecah Dini Aterm dan Preterm di RSD dr. Soebandi Jember
| dc.contributor.author | Nissa Luthfiana Zaki | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-14T02:11:42Z | |
| dc.date.issued | 2025-01-06 | |
| dc.description | Reupload file repository 14 Agustus 2026_Ratna Validasi dan Finalisasi Ratna 14 Agustus 2026 | |
| dc.description.abstract | Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang dapat mempengaruhi insiden mortalitas dan morbiditas bagi janin serta ibu hamil. Insiden KPD di Provinsi Jawa Timur sendiri menduduki posisi kedua tertinggi se-Indonesia pada tahun 2018. Penyebab KPD masih belum bisa diketahui dengan pasti, namun salah satu faktornya ialah infeksi yang dapat ditandai dengan leukositosis. Pemeriksaan leukosit dapat menjadi penanda umum infeksi, namun adanya perbandingan profil leukosit di masing-masing KPD dapat menjadi penanda yang lebih spesifik. Tujuan umum penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan kadar profil leukosit pada kejadian KPD aterm dan preterm di RSD dr. Soebandi Jember. Penelitian ini juga memiliki tujuan khusus untuk mengetahui karakteristik responden; mengetahui kadar profil leukosit pada kejadian KPD aterm dan preterm di RSD dr. Soebandi Jember; serta mengetahui perbedaan antara keduanya. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan studi cross-sectional dengan dua kategori sampel yaitu ibu hamil dengan KPD aterm dan preterm serta terdokumentasi di dalam rekam medis pada bulan Januari 2023 s.d. Juli 2024 di RSD dr. Soebandi Jember. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling yang terdapat sebanyak 55 sampel responden. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji komparasi melalui perbandingan perbedaan antar kategori sampel. Uji normalitas dilaksanakan menggunakan Saphiro Wilk Test, jika data berdistribusi normal (P>0,05) maka menggunakan uji hipotesis Independent T-Test, namun jika data tidak berdistribusi normal (P<0,05) maka digunakan uji hipotesis Mann Whitney. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah umur 20-35 tahun (80%), memiliki latar belakang pendidikan SMA/SMK (43,6%), bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) (81,8%), tidak memiliki riwayat KPD ix (98,2%), merupakan ibu multigravida (58,2%), merupakan ibu nulipara (45,5%), tidak memiliki riwayat abortus (87,3%) dan memiliki Indeks Cairan Amnion (ICA) normal (83,6%). Semua responden memiliki kadar monosit, eosinofil dan basofil normal. Disamping itu, mayoritas juga memiliki kadar leukosit dan limfosit normal. Begitu pula dengan kadar neutrofil, 59,3% pasien dengan KPD aterm memiliki kadar neutrofil normal, akan tetapi terdapat hasil yang menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dengan KPD preterm yaitu sebanyak 64,3% mengalami neutrofilia. Hasil uji statistik Independent T-Test didapatkan nilai sig limfosit (p-value=0,725), dan neutrofil (p-value=0,893). Disamping itu, hasil uji statistik Mann Whitney didapatkan nilai sig leukosit (p-value=0,987), monosit (p-value=0,666), eosinofil (p-value=0,949) dan basofil (p-value=0,979). Nilai p tersebut lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar profil limfosit, monosit, neutrofil, leukosit, eosinofil dan basofil pada pasien dengan KPD aterm dan preterm. Penelitian ini sejalan dengan studi sebelumnya oleh Wahyunindita (2019) dan Pramono et al. (2020) yang juga menemukan hasil serupa. Mayoritas pasien KPD preterm mengalami neutrofilia (64,3%), dengan kadar neutrofil yang lebih tinggi (perbedaan rerata 0,2571) dibandingkan KPD aterm yang sesuai dengan penelitian Galaz et al. (2020). Peningkatan neutrofil dapat berkontribusi pada infeksi berkelanjutan dalam KPD preterm. Selain itu, mayoritas responden adalah ibu multigravida, yang berisiko lebih tinggi mengalami KPD sesuai dengan penelitian oleh Wardani et al. (2024). Peningkatan paritas dapat membuat membran ketuban lebih rentan pecah, oleh karena itu ibu dengan riwayat multigravida memiliki risiko lebih besar untuk mengalami KPD. Disamping itu, faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil penelitian ini salah satunya adalah pekerjaan ibu. Berdasarkan hasil, mayoritas bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) (81,8%). Ibu rumah tangga yang melakukan aktivitas melelahkan berulang-ulang setiap hari seperti memasak dan mencuci dapat mengalami kelelahan, yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya ketuban pecah dini (KPD). | |
| dc.description.sponsorship | Dr. Iis Rahmawati, S.Kp., M.Kes | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/13968 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Keperawatan | |
| dc.subject | Leukosit | |
| dc.subject | Pasien | |
| dc.subject | Ketuban Pecah Dini | |
| dc.title | Perbedaan Profil Leukosit pada Pasien dengan Ketuban Pecah Dini Aterm dan Preterm di RSD dr. Soebandi Jember | |
| dc.type | Other |
