Analisis Pengaruh Bahan Pelat Absorber dengan Pelat Berbentuk Wedge Shape Terhadap Efisiesi Solar Air Heater
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Energi matahari adalah sumber daya yang tidak ada habisnya. Matahari
menghasilkan sejumlah besar energi surya terbarukan yang dapat dikumpulkan dan
diubah menjadi panas dan Listrik. Indonesia memiliki banyak potensi energi
terbarukan, seperti tenaga air (termasuk minihidro), panas bumi, biomasa, angin
dan surya (matahari) yang bersih dan ramah lingkungan, tetapi pemanfaatannya
belum optimal. Salah satu aplikasi energi matahari yang berguna adalah pemanas
udara. Pemanas udara surya (SAH) adalah panas teknologi di mana energi dari
matahari, insulasi matahari, diserap oleh media absorber dan digunakan untuk
memanaskan udara. SAH sebagai energi terbarukan, teknologinya digunakan untuk
AC dan sering digunakan untuk keperluan pemanasan Kelemahan utama dari SAH
adalah bahwa koefisien perpindahan panas antara pelat absorber dan aliran udara
rendah, yang menghasilkan efisiensi termal yang lebih rendah dari pemanas.
Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan perbedaan bahan dan
variasi jarak berbentuk wedge-shape untuk mengetahui pengaruhnya terhadap
energi berguna dan efisiensi solar air heater yang dihasilkan. Karakter intensitas
radiasi yang digunakan yaitu 675,6 W/m2
, 730,2 W/m2
, dan 881,2 W/m2
pada laju
aliran massa yang seragam yaitu 0,0083 kg/s. Pada setiap karakter intensitas radiasi
diuji selama 1 jam dengan interval pengambilan data setiap 30 menit.
Hasil penelitian ini adalah dengan pelat absorber berbahan kuningan
dengan variasi jarak 60 mm intensitas 881,2 W/m2
, dan waktu 60 menit, yang
menunjukkan nilai Qu tertinggi dibandingkan bahan pelat absorber dan variasi
jarak wedge-shape lainnya pada seluruh karakter intensitas radiasi. Energi pada
seluruh bentuk wedge-shape terus bertambah seiring bertambahnya intensitas
radiasi yang dipancarkan. Hal ini dikarenakan energi berguna berhubungan dengan
besarnya beda suhu fluida masuk dan keluarnya. Sedangkan suhu fluidanya
dipengaruhi oleh besarnya kalor yang diserap oleh absorber dari pancaran sinar
radiasi yang diterima.
Penelitian menemukan bahwa meskipun aluminium memiliki kemampuan
menghantarkan panas yang lebih baik, hal ini justru menyebabkan panas lebih cepat
hilang ke lingkungan sekitarnya, sehingga efisiensi pemanasan menurun.
Sebaliknya, konduktivitas termal kuningan yang lebih rendah memungkinkan
material ini menyimpan panas lebih lama, sehingga lebih banyak energi yang
terserap secara efektif oleh media pemanas.
Peningkatan daya tidak selalu sejalan dengan peningkatan efisiensi.
Efisiensi cenderung meningkat dari intensitas radiasi 675,6 W/m2
ke 730,2 W/m2
namun menurun kembali pada 881,2 W/m2
. Pertama adalah overheating lokal,
intensitas radiasi yang terlalu tinggi dapat menyebabkan suhu permukaan pelat
absorber meningkat secara berlebihan yang menyebabkan panas langsung hilang ke
lingkungan sebelum diserap oleh udara. Kedua adalah ketidakseimbangan
perpindahan panas, meskipun energi lebih banyak disuplai ke sistem, fluida yang
dialiri (udara) mungkin tidak mampu menyerap panas secepat yang dilepaskan oleh
elemen pemanas, sehingga terjadi akumulasi energi yang tidak efektif.
Semakin banyak jumlah gelombang, maka semakin besar luas permukaan
aktual pelat absorber. Peningkatan luas permukaan ini berdampak pada peningkatan
area kontak antara pelat dengan udara.
Secara keseluruhan, kombinasi terbaik yang menghasilkan efisiensi
tertinggi terdapat pada plat kuningan dengan jarak gelombang 30 mm dan intensitas
radiasi sebesar 730,2W/m2
. Kombinasi ini mampu mencapai efisiensi hingga
sekitar 21,5%. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan efisiensi termal
terbaik, tidak hanya dibutuhkan daya yang cukup, namun juga perlu memperhatikan
jenis material, bentuk fisik, serta waktu yang tepat dalam proses pemanasan.
Description
Reupload File Repositori 2 Februari 2026_Teddy/Hendra
