Hubungan Rasio Lingkar Pinggang-Tinggi Badan dan IMT dengan Risiko Diabetes Melitus tipe 2 pada Usia Produktif di Wilayah Kerja Puskesmas Patrang

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah salah satu kelainan metabolik paling umum di seluruh dunia dan perkembangannya saat ini menjadi masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh masyarakat global seiring dengan pola kejadiannya yang mengalami peningkatan, yang utamanya disebabkan oleh kombinasi dua faktor utama yaitu gangguan sekresi insulin oleh sel β pankreas dan ketidakmampuan jaringan sensitif insulin untuk merespons. Penduduk usia produktif (15-64 tahun) memiliki risiko dan kerentanan terkena DM tipe 2 yang dipengaruhi oleh gaya hidup, pola konsumsi yang tidak sehat, juga risiko penyakit yang terkait mobilitas yang tinggi. Hal ini dapat memicu tingginya nilai IMT dan Rasio lingkar pinggang tinggi badan yang tinggi sering dikaitkan dengan obesitas dan disglikemia sehingga dapat meningkatkan risiko DM tipe 2. Hal ini dapat dilatarbelakangi salah satunya yaitu kurangnya kesadaran dalam mengontrol berat badan dan lingkar perut. Pengendalian faktor risiko sebagai upaya penurunan prevalensi diabetes melitus tipe 2 dapat dilakukan melalui pengukuran antropometri sederhana seperti RLPTB dan IMT dengan penekanan pada kelompok berisiko tinggi, seperti pada kelompok usia produktif yang memiliki berat badan berlebih (overweight) dan obesitas sehingga meningkatkan kesadaran akan risiko kejadian diabetes melitus tipe 2 di masa mendatang. Penelitian ini menggunakan korelasional deskripstif kuantitatif pendekatan cross-sectional.Jumlah sampel pada penelitian inimenggunakan aplikasiG*Power versi 3.1 dengan sampel sejumlah 112 responden. Teknik sampling menggunakan Accidental sampling. Kriteria inklusi pada penelitian ini yakni memiliki berat badan berlebih (overweight) dengan IMT ≥25, berusia 16-60 tahun, belum pernah terdiagnosis penyakit diabetes melitus, dan bersedia menjadi responden penelitian.Data diperoleh dengan melakukan pengukuran rasio lingkar pinggang-tinggi badan dan IMT, sedangkan risiko DM menggunakan kuesioner Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC). Analisis univariat untuk data kategorik karakteristik responden akan disajikan dalam bentuk frekuensi dan presentase. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Kendall Tau C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengukuran rasio lingkar pinggang-tinggi badan (RLPTB) mayoritas ada pada tingkat Resiko Tinggi yaitu sebanyak 82 responden (73,2%), dan pada variabel pengukuran indeks massa tubuh (IMT) sebagian besar pada kategori Obesitas yakni sebanyak 76 responden (67,9%). Sedangkan pada variabel tingkat risiko diabetes melitus tipe 2 sebagian besar responden masuk dalam kategori cukup rendah 40 responden (35,7%). Analisa data dengan menggunakan uji Kendall Tau C pada masing-masing hubungan variabel. Pada variabel RLPTB dengan variabel tingkat risiko DM tipe 2 didapatkan hasil bahwa nilai p value <0,001. Hal ini menunjukkan bahwa Ha diterima sehingga dapat diartikan bahwa terdapat hubungan antara variabel RLPTB dengan tingkat risiko diabetes melitus tipe 2. Untuk koefisien korelasi (correlation coefficient) menunjukkan hasil 0,483 yang diintrepetasikan bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi cukup. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai rasio lingkar pinggang-tinggi badan atau obesitas pada responden usia produktif, maka semakin berisiko terkena diabetes melitus tipe 2. Sedangkan, Pada variabel IMT dengan variabel tingkat risiko DM tipe 2 didapatkan hasil bahwa nilai p value = 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa Ha diterima sehingga dapat diartikan bahwa terdapat hubungan antara variabel IMT dengan tingkat risiko diabetes melitus tipe 2. Untuk koefisien korelasi (correlation coefficient) menunjukkan hasil 0,331 yang diintrepetasikan bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi lemah. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai indeks massa tubuh memiliki kecenderungan kecil untuk meningkatkan risiko DM tipe 2Dari sini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara variabel RLPTB dan variabel IMT dengan variabel tingkat risiko kejadian diabetes melitustipe 2 pada Usia Produktif di wilayah kerja Puskesmas Patrang. Pengukuran RLPTB lebih baik dalam memprediksi risiko kejadian DM tipe 2, daripada pengukuran IMT. Perawat dapat berperan sebagai care provider. Perawat dapat merancang rencana intervensi berbasis edukasi dan pemantauan rutin untuk mengendalikan parameter risiko diabetes melitus tipe 2 menggunakan antropometri rasio lingkar pinggang-tinggi badan dan IMT. Upaya penyuluhan kesehatan menjadi upaya preventif dalam pencegahan penyakit. Penyuluhan mengenai edukasi pola makan, olahraga, dan gaya hidup sehat dapat membantu masyarakat usia produktif memahami dan mengurangi risiko DM tipe 2.

Description

Entry oleh Arif 2026 Februari 25

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By