Faktor Risiko Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Perkotaan Kabupaten Jember Tahun 2024

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan dan menyebabkan berbagai spektrum penyakit yang menginfeksi sepanjang jalan pernapasan. Kejadian ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di dunia. Prevalensi ISPA pada balita di Kabupaten Jember pada tahun 2024 sebesar 14,8%. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kejadian ISPA balita dapat disebabkan oleh faktor pejamu seperti BBLR, status imunisasi, status gizi, riwayat pemberian ASI eksklusif, jenis kelamin, serta dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti pencahayaan, kepadatan hunian, ventilasi, kebiasaan membuka jendela, dan paparan asap rokok. Penelitian ini dilakukan karena masih belum adanya penelitian terkait faktor risiko kejadian ISPA pada balita di wilayah perkotaan Kabupaten Jember dengan menggunakan desain studi case control. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian ISPA pada balita di wilayah perkotaan Kabupaten Jember tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi case control. Pengambilan data dilakukan di Puskesmas Sumbersari, Kabupaten Jember. Populasi dalam penelitian ini yakni populasi kasus adalah balita yang menderita ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari dalam kurun waktu 4 bulan terakhir sejumlah 90 balita, sedangkan populasi kontrol terdiri dari balita yang tidak menderita ISPA yakni sejumlah 4.399 balita yang bertempat tinggal di sekitar balita pada populasi kasus. Sampel penelitian ini yakni 55 responden pada masing-masing kelompok kasus dan kontrol. Teknik pengambilan sampel pada kelompok kasus adalah teknik simple random sampling dan pada kelompok kontrol menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen penelitian ini yakni BBLR, status imunisasi, status gizi, riwayat pemberian ASI eksklusif, jenis kelamin, pencahayaan rumah, kepadatan hunian, ventilasi, kebiasaan membuka jendela, dan paparan asap rokok dengan variabel dependen yakni kejadian ISPA pada balita. Metode analisis yang dilakukan pada penelitian ini yakni analisis regresi logistik biner. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa pada kelompok kasus balita BBLR sebesar 8 (14,5%), balita yang memiliki riwayat status imunisasi tidak lengkap sebanyak 15 (27,3%), balita dengan status gizi kurang yakni 5 (9,1%), balita yang tidak mendapatkan riwayat pemberian ASI eksklusif sebanyak 36 (65,5%), dan terdapat balita berjenis kelamin laki-laki sebesar 30 (54,5%). Apabila ditinjau dari faktor lingkungan, balita pada kelompok kasus yang memiliki pencahayaan tidak memenuhi syarat sebanyak 32 (58,2%), balita dengan kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat sebesar 32 (58,2%), sebanyak 33 (60%) balita dengan ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat, kebiasaan membuka jendela yang tidak baik pada balita sebesar 33 (60%) dan 37 (67,3%) balita terpapar asap rokok. Hasil analisis bivariat menggunakan uji regresi logistik biner mendapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara BBLR (p = 0,151), status imunisasi (p = 0,099), status gizi (p = 0,540), jenis kelamin (p = 0,340), dan pencahayaan (p = 0,234) dengan kejadian ISPA pada balita. Hasil uji menyatakan ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif (p = 0,021), kepadatan hunian (p = 0,021), ventilasi (p = 0,022), kebiasaan membuka jendela (p = 0,007), dan paparan asap rokok (p = 0,004) dengan kejadian ISPA pada balita. Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor risiko kejadian ISPA pada balita di wilayah perkotaan Kabupaten Jember tahun 2024 adalah riwayat pemberian ASI eksklusif, kepadatan hunian, ventilasi, kebiasaan membuka jendela, dan paparan asap rokok. Saran yang dapat diberikan yakni pengembangan layanan konseling laktasi dan koordinasi dengan pemerintah desa setempat terkait dengan inovasi pemberian atap kaca atau tembus pandang sebagai alernatif upaya pencegahan ISPA bagi puskesmas. Orang tua balita diharapkan tidak melakukan perilaku merokok dan melakukan kebiasaan membuka jendela setiap pagi hari. Peneliti selanjutnya dapat mengkaji terkait suhu dan kelembaban ruangan sebagai faktor risiko kejadian ISPA pada balita.

Description

Reupload File Repositori 9 Februari 2026_Yudi/Rega

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By