Humanisme dalam Novel Putri Cina Karya Sindhunata: Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS ILMU BUDAYA
Abstract
Kajian ini dilatarbelakangi oleh krisis identitas masyarakat Tionghoa akibat
sentimen anti-Tionghoa yang menjamur sejak Periode VOC berkuasa. Fenomenai
tersebut semakin terlihat pasca ketegangan sosial-ekonomi yang terjadi antara
komunitas etnis Tionghoa dan pemerintahan kolonial VOC yang disebut dengan
tragedi geger Pacinaan. Sentiment anti-Tionghoa terus ber-orientasi khususnya saat
kerusuhan Mei 1998 yang menargetkan Tionghoa sebagai objek kekerasan. Dalam
novel Putri Cina Sindhunata merefleksikan suatu kritik yang mengakibatkan krisis
identitas yang dialami oleh masyarakat Tionghoa.
Kajian ini bertujuan mengungkap keterkaitan antarunsur struktural yang
bersifat tematik dalam novel Putri Cina karya Sindhunata yang meliputi tokoh hero,
relasi tokoh hero dengan tokoh lain, serta relasi tokoh hero dengan objek di
sekitarnya. Analisis kemudian dilanjutkan dengan kajian strukturalisme genetik
untuk mengungkap pandangan dunia humanisme yang terefleksi melalui struktur
sosial yang berlaku dan melatarbelakangi proses penciptaan novel. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini, yakni metode dialektik yang dirancang khusus
untuk teori strukturalisme genetik. Objek material dalam penelitian ini adalah novel
Putri Cina (2007) karya Sindhunata, sedangkan objek formalnya adalah pandangan
dunia pengarang dalam relasi struktur teks dan struktur sosial yang dikaji
menggunakan teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann.
Hasil analisis struktural yang bersifat tematik menunjukkan bahwa relasi
dalam novel Putri Cina dibangun melalui relasi tokoh hero dengan tokoh lain serta
relasi tokoh dengan objek di sekitarnya. Relasi antartokoh menunjukkan bahwa
adanya konflik rasial yang dibuktikan dengan relasi tokoh hero dengan tokoh
pemerintah negara, Gurdo Paksi dan Joyo Sumenggah. Giok Tien sebagai tokoh
hero ditampilkan sebagai representasi atas keterwakilan golongan etnis Tionghoa
di Indonesia. Tokoh yang banyak mengalami penindasa, objek marginal dan
mengalami konflik batin atas krisis identitas yang dialami golongannya. Relasi
yang terbangun dengan objek sekitarnya juga memberikan dukungan kuat
mengenai diskriminasi yang dialami Giok Tien dan golongan Cina di wilayah
Pedang Kemulan.
Hasil kajian strukturalisme genetik yang terdapat dalam novel Putri Cina
karya Sindhunata menunjukkan bahwa pandangan humanisme dibangun sebagai
sarana kritik atas struktur sosial yang mendiskriminasi masyarakat Tionghoa di
Indonesia. Humanisme sebagai napas tulisan Sindhunata memberikan pemahaman
mengenai tindakan ketidakadilan yang berbuntut pada ketimpangan sosial.
Masyarakat yang minoritas menjadi objek subordinasi akibat hegemoni penguasa
yang mempropagandakan sentimen anti-Tionghoa. Krisis identitas yang dialami
oleh masyarakat Tionghoa menjadi sintetis atas ketidakadilan yang terjadi, padahal
etnis Tionghoa sudah menjadi bagian penting dalam struktur sosial sejak periode
Kerajaan Majapahit dan keberadaanya telah lama dibuktikan melalui mitos-mitos
yang berlaku. Proses kreatif pengarang terbentuk melalui pengalaman hidup,
kondisi sosial-ekonomi dan keterlibatan kominutas, organisasi dan kolektif lainnya
yang membentuk pandangan dunia humanisme Sindhunata dalam novel Putri Cina.
Pandangan dunia humanisme hadir bukan hanya sebagai pandangan subjek
perseorangan, akan tetapi refleksi dari kondisi kelompok sosial pengarang yang
turut membangun pandangan dunia tersebut. Melalui novel Putri Cina Sindhunata
meluapkan sebuah kritik atas ketidakadilan yang menimpa etnis Tionghoa dan
pergulatan batin atas krisis identitas yang dialaminya.
Description
Reuploud Repository hasyim Juni 2026
