Potensi Ekstrak Daun Ungu (Graptophyllum pictum L. Griff.) 10% dalam Menurunkan Jumlah Limfosit pada Luka Pasca Pencabutan Gigi Tikus Wistar

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kedokteran Gigi

Abstract

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) di tahun 2023, prevalensi masalah gigi dan mulut di Indonesia mencapai 56,9%. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini ialah perawatan pencabutan gigi. Pencabutan gigi menduduki peringkat ketiga sebagai perawatan mengatasi masalah gigi dan mulut yang paling banyak dilakukan di Indonesia. Pencabutan gigi tentunya akan meninggalkan luka dan melibatkan proses penyembuhan. Salah satu fase proses penyembuhan ialah fase inflamasi yang ditandai dengan adanya migrasi dari limfosit. Jumlah limfosit dapat menjadi indikator penting penyembuhan luka karena dapat menandakan selesainya proses inflamasi. Umumnya, inflamasi dapat sembuh tujuh hari pasca pencabutan, namun apabila terjadi gangguan maka akan menyebabkan terlambatnya penyembuhan luka. Untuk mengatasi inflamasi terutama inflamasi yang berkepanjangan, pasien biasanya diberikan medikasi obat antiinflamasi agar penyembuhan luka dan inflamasi dihentikan. Salah satu obat AINS adalah natrium diklofenak. Meskipun demikian, natrium diklofenak tetap memiliki efek samping seperti mual, muntah, gastritis, eritema kulit, dan sakit kepala. Adanya efek samping dalam penggunaan obat AINS ini sehingga perlu dikembangkan penggunaan obat tradisional dari bahan herbal. Salah satu bahan herbal yang berpotensi mengendalikan inflamasi pada jejas akibat pencabutan gigi ialah daun ungu. Ekstrak daun ungu konsentrasi 10% dengan kandungan antiinflamasi, diharapkan dapat menurunkan jumlah limfosit dalam penyembuhan soket pasca ekstraksi gigi. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi ekstrak daun ungu dalam menurunkan jumlah limfosit pada soket luka pasca pencabutan gigi tikus. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan post-test only group design yang menggunakan 48 tikus wistar jantan, dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (1, 3, 5, dan 7 hari), kelompok kontrol positif (1, 3, 5, dan 7 hari), dan perlakuan (1, 3, 5, dan 7 hari).

Description

Finalisasi_Maya_16 Juni 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By