Persepsi Petani Milenial terhadap Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique pada Budidaya Sayuran di Desa Suci

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Pertanian

Abstract

Hidroponik Nutrient Film Technique merupakan suatu sistem yang mengandalkan sirkulasi air dengan campuran larutan nutrisi yang dipompa terus menerus melalui pipa (pvc). Pengembangan hidroponik NFT ini dapat mengatasi keterbatasan lahan dan meningkatkan minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Desa suci merupakan salah satu desa yang menerapkan hidroponik NFT setelah adanya program desa sejak tahun 2022 yang didukung oleh berbagai pihak seperti BUMDes, PKK, Destana dan Akademisi. Program hidroponik ini dapat mewujudkan adanya program RDS (Rumah Desa Sehat) dan SDG’s Desa. Keberhasilan hidroponik NFT tidak terlepas dari persepsi seseorang yang dapat dilihat dari enam proses yang terdiri dari proses menerima informasi, proses menyeleksi informasi, proses pengorganisasian, proses penafsiran, proses pengecekkan dan proses reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi petani milenial terhadap sistem hidroponik Nutrient Film Technique pada budidaya sayuran di Desa Suci melalui enam proses persepsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan beberapa pertimbangan (purposive method). Penentuan informan menggunakan purposive method dengan menentukan kriteria tertentu. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi pasif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman dan Saldana (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani terhadap sistem hidroponik NFT pada budidaya sayuran yang terdiri dari (1) proses menerima informasi (internet dan sosialisasi), (2) proses menyeleksi informasi yang diterima berdasarkan kebutuhan internal dan kebutuhan eksternal, (3) proses pengelompokkan dapat dilihat ketika petani mendapatkan materi yang diperoleh dari sosialiasi dan pelatihan hidroponik di Desa Suci (persiapan greenhouse, persemaian, pemberian nutrisi AB Mix dan panen), (4) proses penafsiran informasi menggunakan teori karakterisitik inovasi yang terdiri dari relative advantage adanya hidroponik NFT, compability yang sesuai dengan kebutuhan petani, complexity yang dihadapi petani, triability untuk menguji kualitas dari adanya hidroponik dan observability yang memungkinkan petani untuk mencoba menerapkan. Selain itu, hidroponik dapat menghasilkan sayuran yang bersih, segar, tahan lama, ramah lingkungan dan menjadi solusi alternatif untuk mengatasi keterbatasan lahan namun petani juga menghadapi tantangan seperti modal awal yang besar, perawatan yang rumit dan tidak mempunyai perbedaan harga antara sayuran hidroponik dengan sayuran konvensional, (5) proses pengecekan (kevalidan) dari adanya hidroponik yang dilakukan melalui diskusi sesama petani dan pengusaha hidroponik, (6) proses reaksi dapat dilihat dari sikap petani terhadap penerapan hidroponik NFT yang memiliki persepsi positif (petani tertarik dan berkeinginan untuk menerapkan hidroponik) dan persepsi buruk (petani merasa tidak ada keinginan untuk menerapkan hidroponik karena adanya hambatan yang dihadapi). Pada keenam proses persepsi petani terdapat keterlibatan dari instansi dan beberapa pihak lainnya seperti pemerintah desa, akademisi dan pengusaha hidroponik. Adanya keterlibatan tersebut diharapkan untuk meningkatkan kegiatan sosialisasi ataupun pelatihan lanjutan yang lebih intensif mengenai peluang pasar untuk produk hidroponik dan melakukan kolaborasi bersama lembaga kesehatan untuk mencapai program-program yang telah direncanakan di Desa Suci. Selain itu, pengembangan hidroponik secara berkelanjutan ini dapat membentuk komunitas khusus hidroponik yang dapat menjadi wadah petani untuk saling berbagi informasi dan pengalaman dalam budidaya hidroponik.

Description

Entry oleh Arif 2026 Februari 26

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By