Toksisitas Insektisida Nabati Ekstrak Batang Tembakau (Nicotiana Tabacum L.), Daun Babadotan (Ageratum Conyzoides L.) dan Kombinasi Keduanya Terhadap Larva Crocidolomia Pavonana F.

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Pertanian

Abstract

Crocidolomia pavonana atau ulat krop merupakan salah satu hama di tanaman Brassicaceae yang menyerang pada fase larva. Serangan tersebut merusak tanaman hingga hasil produksi turun sampai 79,81%. Petani dalam mengendalikan serangan ulat krop sering menggunakan insektisida kimia secara terus menerus untuk menekan populasinya. Namun insektisida kimia memberikan dampak negatif seperti baik itu bagi lingkungan maupun bagi kesehatan manusia. Alternaif yang dapat digunakan dalam pengendalian hama yang aman bagi lingkungan maupun manusia adalah insektisida nabati. Tembakau (Nicotiana tabacum L) merupakan salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai insektisida nabati karena mengandung beberapa metabolit sekunder. Namun pada pengaplikasiannya, dosis yang digunaka cukup tinggi untuk mampu menekan serangan ulat krop, sehingga perlu dikombinasikan dengan bahan lain salah satunya babadotan. Babadotan (Ageratum conyzoides L) mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, seperti tannin dan polifenol yang tidak dimiliki tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan toksisitas dari ekstak batang tembakau, daun babadotan dan kombinasi keduanya terhadap larva C. pavonana. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jember dari bulan April-September 2024. Setiap ekstrak diuji ke larva instar III C. pavonana yang telah dibudidayakan dengan metode celup daun di cawan petri. Cawan petri yang berisi 1 larva yang telah dipuasakan selama 2 jam, diberikan pakan daun brokoli yang telah ditanam sebelumnya dengan diameter 5 cm yang sebelumnya telah dicelup kedalam ekstrak selama 5 menit. Pemberian pakan perlakuan dilakukan selama 24 jam lalu larva diberi pakan daun tanpa perlakuan. Pengamatan dilakukan setiap 24 jam hingga hari ke-4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 96 jam setelah perlakuan, ekstrak babadotan konsentrasi 17% memiliki nilai mortalitas sebesar 93,33%, sedangkan ekstrak tembakau konsentrasi 30% memiliki nilai mortalitas sebesar 93,33%. Ekstrak daun babadotan bersifat lebih beracun karena memiliki LC50 yang lebih rendah daripada ekstrak batang tembakau masing-masing sebesar 6,710 dan 10,640. Sedangkan kombinasi ekstrak batang tembakau dan daun babadotan (3:5) memiliki mortalitas dan nilai LC50 tertinggi yaitu sebesar 96,67% dan 5,245. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak bersifat lebih beracun daripada bahan tunggal. Berdasarkan indeks kombinasi, kombinasi ekstrak tembakau dan babadotan (3:5) pada taraf LC50 dan LC95 bersifat sinergistik lemah. Dengan demikian, pada perlakuan bahan tunggal ektrak tembakau lebih beracun daripada ekstrak batang tembakau, namun perlakuan kombinasi ekstrak tembakau dan babadotan lebih beracun daripada perlakuan tunggal dari masing-masing ekstrak.

Description

Pembimbing Utama Dr. Ir. Mohammad Hoesain, M.P

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By