Evaluasi Pertumbuhan dan Efisiensi Air Padi Cempo Ireng M₂ (Hasil Induksi Bio-Catharantin 10%) pada Cekaman Salinitas
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Padi hitam Cempo Ireng merupakan salah satu plasma nutfah lokal yang
memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi tinggi, namun masih menghadapi kendala
dalam produktivitas serta ketahanan terhadap cekaman lingkungan, khususnya
salinitas. Salinitas merupakan faktor pembatas utama pertumbuhan tanaman padi
karena dapat mengganggu keseimbangan osmotik, metabolisme, dan proses
fisiologis tanaman. Upaya peningkatan keragaman genetik dan kemampuan
adaptasi tanaman terhadap cekaman dapat dilakukan melalui induksi mutasi. Bio
catharantin, yang berasal dari ekstrak Catharanthus roseus, merupakan agen
penginduksi poliploidi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan
toleransi tanaman terhadap stres abiotik. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan
untuk mengkaji respon fisiologis dan morfologis padi hitam Cempo Ireng generasi
M2 hasil induksi Bio-catharantin 10% serta kemampuannya dalam menghadapi
cekaman salinitas.
Penelitian ini menggunakan padi hitam Cempo Ireng generasi M2 hasil
induksi Bio-catharantin 10% dan tanaman kontrol sebagai pembanding.
Pengamatan dilakukan pada fase perkecambahan, pertumbuhan vegetatif, dan
respon tanaman terhadap perlakuan salinitas. Parameter yang diamati meliputi daya
perkecambahan, laju transpirasi harian, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan
lebar daun, serta respon fisiologis terhadap salinitas yang mencakup laju transpirasi,
ukuran stomata, suhu daun menggunakan kamera inframerah, nilai SPAD, dan
kandungan klorofil. Perlakuan salinitas diberikan pada beberapa tingkat konsentrasi
untuk mengamati perubahan respon tanaman seiring meningkatnya cekaman. Data
dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan disajikan secara deskriptif untuk
menggambarkan perbedaan antara tanaman mutan dan kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi Bio-catharantin 10% tidak
bersifat toksik terhadap daya perkecambahan padi hitam Cempo Ireng, meskipun
terdapat variasi yang cukup besar antar mutan sebagai akibat segregasi genetik pada
generasi M2. Sebagian besar mutan menunjukkan laju transpirasi yang lebih tinggi
dibandingkan tanaman kontrol, dengan pola perubahan harian yang dinamis,
sedangkan beberapa mutan menunjukkan laju transpirasi yang lebih rendah yang
mengindikasikan potensi efisiensi penggunaan air. Pertumbuhan vegetatif tanaman
mutan pada umur 40 hari secara umum lebih baik dibandingkan kontrol, terutama
pada parameter jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun, dengan beberapa mutan
menunjukkan performa pertumbuhan yang menonjol. Perlakuan salinitas
menyebabkan penurunan pertumbuhan tanaman yang ditandai dengan
berkurangnya tinggi tanaman dan ukuran daun seiring meningkatnya konsentrasi
garam, namun tidak menyebabkan perubahan yang konsisten pada laju transpirasi.
Hal ini menunjukkan adanya mekanisme adaptasi fisiologis tanaman dalam
mempertahankan proses transpirasi pada kondisi cekaman. Salinitas juga
memengaruhi ukuran stomata, terutama pada konsentrasi tinggi dan durasi
perlakuan yang lebih lama, dengan kecenderungan penurunan panjang dan lebar
stomata sebagai respon adaptif untuk mengurangi kehilangan air. Respon kesehatan
daun terhadap cekaman salinitas bersifat dinamis, yang tercermin dari perubahan
suhu daun, nilai SPAD, dan kandungan klorofil, yang menunjukkan adanya
penyesuaian sistem fotosintesis terhadap stres garam.
Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa induksi
Bio-catharantin 10% mampu menghasilkan keragaman fisiologis dan morfologis
pada padi hitam Cempo Ireng generasi M2 serta berpotensi meningkatkan
pertumbuhan vegetatif dan kemampuan adaptasi terhadap cekaman salinitas.
Meskipun salinitas menekan pertumbuhan tanaman, beberapa mutan tetap mampu
mempertahankan fungsi fisiologis tertentu, seperti laju transpirasi dan stabilitas
kandungan klorofil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mutasi menggunakan
Bio-catharantin berpotensi dimanfaatkan dalam program pemuliaan padi hitam
untuk menghasilkan genotipe unggul yang toleran terhadap cekaman salinitas, serta
menjadi dasar bagi penelitian lanjutan pada generasi berikutnya dan pengujian skala
lapang.
Description
Finalisasi_Maya_9 Juni 2026
