Efek Toksik Akut Kromium Heksavalen terhadap Kadar Serum ALP sebagai Indikator Gangguan Fungsi Organ Tikus Wistar (Rattus norvegicus)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Kromium heksavalen [Cr(VI)] merupakan logam berat yang banyak
digunakan dalam berbagai sektor industri dan dikenal memiliki sifat toksik tinggi.
Di lingkungan, Cr(VI) umumnya dijumpai dalam bentuk berbagai garam dan oksida
anorganik, seperti natrium kromat (Na₂CrO₄), kalium dikromat (K₂Cr₂O₇), asam
kromat (H₂CrO₄), dan kromium trioksida (CrO₃), yang akan membentuk ion kromat
(CrO₄²⁻) atau dikromat (Cr₂O₇²⁻) ketika terlarut dalam air. Bentuk ionik ini memiliki
kelarutan dan reaktivitas tinggi, sehingga memudahkan Cr(VI) masuk ke dalam
sistem biologis dan memicu stres oksidatif serta gangguan fungsi sel pada berbagai
organ, termasuk hati dan tulang yang berperan sebagai sumber utama enzim
alkaline phosphatase (ALP). Perubahan kadar ALP serum sering digunakan sebagai
indikator gangguan hepatobilier dan metabolisme tulang, namun respons ALP
terhadap paparan akut Cr(VI) masih menunjukkan hasil yang bervariasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh toksik akut Cr(VI)
(dalam penelitian ini menggunakan CrO3) terhadap kadar ALP serum sebagai
indikator gangguan fungsi organ pada tikus Wistar (Rattus norvegicus). Penelitian
ini merupakan studi eksperimental dengan rancangan post-test only control group.
Subjek penelitian berupa tikus Wistar jantan yang dibagi secara acak menjadi
kelompok kontrol, kelompok perlakuan pertama yang diberikan CrO3 dengan dosis
1 mg/kgBB, dan kelompok perlakuan kedua yang diberikan CrO3 dengan dosis 5
mg/kgBB secara akut (7 hari) melalui pemberian oral. Setelah perlakuan, dilakukan
pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar ALP serum menggunakan
metode spektrofotometri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus yang diberi CrO3 secara akut
cenderung mengalami perubahan kadar ALP serum dibandingkan kelompok
kontrol, meskipun perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik (p>0.05).
Hasil tersebut kemungkinan akibat jangka waktu perlakuan yang pendek, dosis
rendah, dan jalur pemberian melalui per oral. Temuan ini mengindikasikan bahwa
paparan akut Cr(VI) lebih banyak menimbulkan respons kompensasi dan gangguan
fungsional awal, tanpa kerusakan struktural yang cukup berat untuk meningkatkan
pelepasan ALP ke dalam sirkulasi. Perubahan ALP yang tidak signifikan diduga
berkaitan dengan supresi aktivitas enzim, gangguan fungsi hepatosit awal, serta
penurunan aktivitas osteoblast akibat stres oksidatif.
Oleh karena itu, paparan akut Cr(VI) pada dosis yang diteliti (1 mg/kgBB
dan 5 mg/kgBB) belum terbukti secara signifikan mengubah kadar ALP serum
pada tikus Wistar. ALP serum kurang sensitif sebagai penanda tunggal toksisitas
akut Cr(VI). Penelitian lanjutan dengan durasi paparan lebih panjang serta
penambahan pemeriksaan biomarker dan histopatologi organ sangat dianjurkan
untuk memperoleh gambaran toksisitas yang lebih komprehensif.
Description
Validasi Repository 15 Juni 2026_Bunga/Firly
