Gambaran Paparan Debu Asap Las (Welding fume) dan Gejala Rinitis pada Pekerja Las PT. X

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstract

Secara global, pada tahun 2020 terdapat 1% hingga 47,9% penduduk dewasa di Asia mengalami rinitis alergi. Sementara itu, prevalensi rinitis di Indonesia didapatkan angka rata-rata sebesar 1,5 – 12,4%. Investigasi prevalensi kasus rinitis masih jarang dilakukan, namun berdasarkan beberapa kajian menunjukkan bahwa prevalensi rinitis terus meningkat setiap tahunnya. Rinitis dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab, salah satunya yaitu rinitis okupasi yang berhubungan dengan paparan iritan di tempat kerja. Iritan terdiri dari agen dengan berat molekul tinggi yang bersifat organik, serta agen dengan berat molekul rendah, seperti fume yang bersifat anorganik. Berdasarkan studi kohort yang telah dilakukan pada tahun 2006-2018 di Eropa, ditemukan 447 kasus yang disebabkan oleh agen dengan berat molekul rendah. Rinitis dapat menjadi salah satu gejala awal akibat paparan iritan yang ditimbulkan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, ditemukan adanya keterkaitan antara kejadian rinitis okupasi dengan kejadian asma, terdapat sebagian besar pasien 22 dari 25 orang (88%) yang terkena rinitis okupasi, ternyata 17 pasien (77%) mengalami gejala rinitis sebelum terkena asma. Paparan debu asap las secara terus menerus akan menyebabkan rinitis secara berulang selagi pekerja masih terpapar, sehingga hal ini akan mengganggu produktivitas pekerja. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada pekerja las di PT. X diperoleh bahwa 4 dari 15 diantaranya merasakan beberapa gejala rinitis. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji paparan debu asap las (welding fume) dan gejala rinitis pada pekerja las di PT. X. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Penelitian dilakukan pada pekerja las di PT. X. Jumlah sampel dalam penelitian adalah 54 pekerja las yang diambil dengan metode total sampling. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi menggunakan kuesioner Total Nassal Symptom Score (TNSS) sertapengukuran lingkungan kerja berupa kadar welding fume. Data di analisis secara deskriptif melalui distribusi frekuensi dan crosstab. Distribusi frekuensi dilakukan pada setiap variabel yang diteliti, yaitu faktor individu, faktor pekerjaan dan gejala rinitis pada pekerja las. Crosstab dilakukan pada variabel gejala rinitis berdasarkan masa kerja, sirkulasi udara, kadar welding fume, riwayat atopi, kebiasaan merokok, usia, penggunaan APD untuk melihat kecenderungan antar dua variabel. Hasil penelitian pada pekerja las didapatkan rata-rata berusia 38,31 tahun. Lebih dari setengah pekerja las tidak memiliki riwayat atopi (55,6%) dan kebiasaan merokok ringan (55,6%). Mayoritas pekerja las menggunakan APD (74,1%) dan sirkulasi udara (72,2%) dengan baik. Pekerja las rata-rata telah bekerja selama 16 tahun. Hasil pengukuran lingkungan kerja didapatkan bahwa kadar welding fume terbanyak, yaitu titik T1 pada setiap kadar zat Pb, Cd, dan Cr berturut-turut sebesar 0,01316; 0,00425; dan 0,0612 mg/m³ yang masih dibawah standar TWA ACGIH. Gejala rinitis dialami oleh sebagian besar pekerja las (55,6%). Selanjutnya analisis menggunakan crosstab menunjukkan bahwa faktor individu, yaitu pekerja dengan rerata usia 40 tahun; 79,2% pekerja dengan riwayat atopi; 42,5% pekerja dengan penggunaan APD baik; dan 83,3% pekerja dengan kebiasaan merokok berat cenderung mengalami gejala rinitis. Sementara pada faktor pekerjaan, yaitu pekerja dengan rerata masa kerja 19 tahun; 43,6% pekerja dengan sirkulasi udara baik; dan 55,6% pekerja dengan paparan welding fume (Pb, Cd, dan Cr) kurang dari standar cenderung mengalami gejala rinitis. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan kepada perusahaan adalah melakukan pemeriksaan kesehatan rutin baik berkala maupun khusus pada pekerja las khususnya organ pernapasan dan melakukan pengukuran kadar welding fume secara rutin minimal satu tahun sekali. Perusahaan perlu memperbanyak jumlah LEV dan menggunakan jenis elastomeric half mask respirator dengan katup pernapasan keluar yang disertai P100 filter. Bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti kadar welding fume secara total dan menggunakan analisis parameter yang lebih luas yang terukur secara personal tiap pekerja las.

Description

Reupload FIle Repositori 30 Maret 2026_Maya/Lia

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By