Potensi Kombinasi Scaffold Hidroksiapatit Gipsum Puger (HAGP) Dan Pati Singkong Terhadap Peningkatan Jumlah Fibroblas Setelah Pencabutan Gigi Tikus Wistar

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kedokteran Gigi

Abstract

Pencabutan gigi merupakan tindakan yang umum dalam mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi 31,9%. Akan tetapi, tindakan ini dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar, terutama pada kasus pencabutan gigi dengan jumlah yang banyak dan usia lanjut. Kerusakan tulang alveolar dapat mengakibatkan ketidakstabilan pemasangan gigi tiruan dan implan gigi. Oleh karena itu, diperlukan upaya mempercepat penyembuhan luka soket setelah pencabutan gigi. Terapi menggunakan bone graft dengan desain scaffold pada soket gigi dapat membantu proses penyembuhan tulang. Bahan scaffold yang banyak dikembangkan adalah biomaterial berbahan biokeramik, seperti hidroksiapatit. Penelitian Naini (2014) menunjukkan bahwa gipsum Puger berhasil disintesis menjadi Hidroksiapatit Gipsum Puger (HAGP). Pemanfaatan HAGP diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif untuk pembuatan scaffold yang lebih mudah diperoleh dan dengan harga terjangkau. Penambahan bahan alam seperti pati singkong diharapkan mampu membantu memaksimalkan proses regenerasi tulang dengan baik. Pati merupakan salah satu alternatif yang dapat diaplikasikan dalam pembuatan scaffold karena mengandung zat berupa amilosa dan amilopektin yang dapat mengoptimalkan sifat mekanik pada scaffold dan membantu regenerasi jaringan tulang, sehingga peneliti ingin melakukan penelitian untuk mengetahui potensi kombinasi scaffold HAGP dan pati singkong pada tikus wistar jantan dalam upaya untuk mempercepat regenerasi tulang melalui pengamatan jumlah sel fibroblas pada hari ke-3, ke-7, dan ke-14. Jenis penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan rancangan penelitian the post-test only control group design. Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus wistar yang terdiri dari 9 kelompok penelitian yang terdiri dari 3 kelompok kontrol hari ke-3, ke-7, ke-14, tiga kelompok perlakuan HAGP hari ke-3, ke-7, ke-14, dan tiga kelompok perlakuan HAGP+PS hari ke-3, ke-7, ke-14. Kelompok kontrol merupakan kontrol negatif dengan melakukan pencabutan pada gigi insisivus kiri rahang bawah tikus tanpa diberikan bahan scaffold. Kelompok perlakuan terdiri dari pemberian bahan scaffold HAGP dan scaffold HAGP+PS yang terbagi dalam kelompok setelah pencabutan yaitu kelompok hari ke-3, hari ke-7 dan hari ke-14. Setiap kelompok perlakuan dilakukan pencabutan gigi insisivus kiri rahang bawah, kemudian diberikan scaffold pada soket gigi dan tikus dirawat sampai hari dikorbankan untuk diambil jaringannya. Setelah sampel jaringan didapatkan, dilakukan pemrosesan jaringan hingga menjadi preparat histologi kemudian dilakukan pembacaan sel fibroblas. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji statistik non parametrik dengan uji Shapiro Wilk dan uji homogenitas Levene. Hasil uji normalitas sebagian besar menunjukkan data berdistribusi normal dengan nilai p>0,05, akan tetapi beberapa menunjukkan data tidak berdistribusi normal dengan nilai p<0,05. Hasil uji homogenitas Levene menunjukkan data berdistribusi homogen dengan hasil p-value 0,062, sehingga data memiliki nilai p>0,05 Uji selanjutnya dilakukan uji Kruskal Wallis dan menunjukkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok. Selanjutnya dilakukan uji post hoc Mann-Whitney U-Test sebagai uji lanjutan untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan signikan dan menunjukkan hasil bahwa sebagian besar data antar kelompok mempunyai nilai yang berbeda signifikan (p<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok yang memiliki peningkatan jumlah sel fibroblas paling tinggi adalah kelompok dengan pemberian kombinasi scaffold HAGP dan pati singkong dengan rata-rata jumlah sel fibroblas 42,56 sel pada hari ke-14, kelompok pemberian HAGP 34,11 sel pada hari ke-14 dan kelompok kontrol yaitu 22,67 sel pada hari ke-14. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yaitu pemberian kombinasi scaffold HAGP dan pati singkong dapat meningkatkan jumlah fibroblas setelah pencabutan gigi tikus wistar.

Description

Reupload Repositori File 11 Maret 2026_Kholif Basri

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By