Analisis Sitokin IFN- γ dan IL-4 pada Mencit (Mus musculus) Pasca Paparan Protein Fraksi 31 kDa Kelenjar Saliva Aedes albopictus
| dc.contributor.author | Aurania Putri Pratama | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-11T02:19:11Z | |
| dc.date.issued | 2024-02-11 | |
| dc.description | Reupload Repository 11 Februari 2026_Hasyim/Firdiana | |
| dc.description.abstract | Kelenjar saliva Ae. albopictus mengandung beberapa protein yang berperan sebagai antihemostatik, vasodilator, dan imunomodulator yaitu dapat menentukan keberhasilan transmisi virus dengue. Protein kelenjar saliva Ae. albopictus yang telah teridentifikasi sebagai imunomodulator yaitu pita protein 31 kDa, 67 kDa dan 47 kDa. Protein 31 kDa diduga memiliki komponen protein D7. Paparan berulang dengan protein 31 kDa pada mencit (Mus musculus) dapat memodulasi respon imun spesifik pada inang. Respon imun inang akan mengalami perubahan adri subset Th1 kearah subset Th2 yang dapat ditandai dengan penurunan konsentrasi sitokin IFN- γ dan kenaikan sitokin IL-4. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui respon imun seluler Th1 (IFN- γ) dan Th2 (IL-4) pada mencit (Mus musculus) pasca paparan berulang protein 31 kDa dari kelenjar saliva Ae. albopictus. Pengukuran sitokin IFN- γ dan IL-4 dilakukan dengan metode ELISA. Hewan coba dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (buffer), kontrol adjuvant dan protein 31 kDa + adjuvant. Injeksi dilakukan setiap 2 minggu sekali selama 6 minggu pada bagian subkutan. Pengambilan darah dilakukan selama pada minggu ke-0; ke-2; ke-4 dan ke-6, kemudian dilakukan preparasi serum darah. Serum darah yang telah didapatkan dilakukan analisis konsentrasi sitokin IFN- γ dan IL-4 dengan menggunakan ELISA Kit. Prosedur metode ELISA sesuai manual book Bioassay Technology Laboratory ELISA Kits with Pre-Coated Plates Mouse dengan menggunakan teknik sandwich ELISA. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan berbeda nyata dengan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan protein 31 kDa + adjuvant menunjukkan konsentrasi sitokin IFN-γ lebih rendah dibanding dengan kelompok lainnya. Pada kelompok kontrol (buffer) dan kontrol (adjuvant) menunjukkan konsentrasi IFN- γ yang cenderung sama. Sedangkan pada kelompok perlakuan protein 31 kDa + adjuvant mengalami penurunan. Hasil analisis statistik kelompok perlakuan berbeda nyata dengan kelompok kontrol. Pada kelompok kontrol (buffer) dan kontrol (adjuvant) konsentrasi sitokin IL-4 terdapat sedikit kenaikan. Sedangkan pada kelompok perlakuan protein 31 kDa + adjuvant mengalami peningkatan yang signifikan. Paparan berulang pada kelompok perlakuan protein 31 kDa + adjuvant menunjukkan adanya penuruan sitokin IFN- γ dan kenaikan sitokin IL-4. Berdasarkan hasil tersebut, protein 31 kDa dapat memodulasi respon imun dari subset Th1 kearah subset Th2. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Dr. Rike Oktarianti, M.Si. DPA: Syubbanul Wathon, S.Si. M.Si. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/2777 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam | |
| dc.subject | Sitokin IFN- γ | |
| dc.subject | IL-4 pada Mencit (Mus musculus) | |
| dc.subject | Kelenjar Saliva Aedes albopictus | |
| dc.title | Analisis Sitokin IFN- γ dan IL-4 pada Mencit (Mus musculus) Pasca Paparan Protein Fraksi 31 kDa Kelenjar Saliva Aedes albopictus | |
| dc.type | Other |
