Evaluasi Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Nawasena pada Pengolahan Bunga Mawar dengan Model CIPP (Studi Kasus di Desa Karangpring Kecamatan Balung Kabupaten Jember)

Abstract

Kerugian menjadi satu resiko dan permasalahan yang sering dialami oleh para petani. Salah satu kerugian yang sering dialami oleh petani diesebabkan oleh hasil panen yang tidak bertahan lama. Dalam menangani permasalahan tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT Nawasena) berupaya mengatasi kerugian pada hasil panen dengan melakukan program pemberdayaan. Melalui program ini, bunga mawar yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk segar dengan daya simpan terbatas, diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti teh mawar, sirup mawar, dan selai mawar. Pengolahan ini tidak hanya memperpanjang masa simpan produk, tetapi juga meningkatkan nilai jual sehingga memberikan peluang peningkatan pendapatan bagi anggota KWT. Selain itu, program pemberdayaan ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan anggota dalam proses produksi hingga pengemasan yang menarik. Dalam pelaksanaannya, program pemberdayaan ini menghadapi permasalahan berupa penurunan partisipasi anggota. Tidak semua anggota KWT secara konsisten mengikuti kegiatan pelatihan maupun praktik pengolahan. Penurunan partisipasi ini menjadi tantangan dalam mencapai keberhasilan program pemberdayaan, mengingat partisipasi aktif anggota merupakan kunci utama dalam proses pemberdayaan masyarakat. Rendahnya keterlibatan anggota dapat berdampak pada kurang optimalnya transfer pengetahuan dan keterampilan, serta menghambat keberlanjutan program yang telah dirancang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengetahui penyebab penurunan partisipasi pada program pemberdayaan KWT Nawasena dengan menggunakan evaluasi model CIPP (context, input, process & product). Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif persentase. Tempat penelitian ditentukan dengan menggunakan metode purposive area pada KWT Nawasena yang berada di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember. Informan penelitian ini yaitu anggota KWT, pengurus KWT dan Petugas Penyuluh Lapang (PPL) setempat. Teknik pengumpulan data yakni dengan metode wawancara, observasi sdan dokumen. Data yang dihasilkan dianalisis dengan metode deskriptif persentase. Berdasarkan hasil penelitian, context dalam program pemberdayaan pada KWT Nawasena mendapatkan total skor 100% dan masuk dalam kategori “sangat sesuai”. Hal tersebut terjadi karena tujuan dari diadakannya program pemberdayaan telah sesuai dengan permasalahan yang ada dalam mengatasi kerugian hasil panen mawar yang tidak bertahan lama. Selain itu, evaluasi pada sasaran penerima manfaat juga termasuk dalam kategori yang “sangat sesuai” karena partisipan yang mengikuti program pemberdayaan merupakan petani/perempuan yang aktif di bidang pertanian. Menurut hasil evaluasi pada komponen input, mendapatkan total skor 88,9% sehingga masuk dalam kategori “sangat sesuai”. Meskipun demikian, terdapat hambatan pada pendanaan program yang dimana pada program tersebut hanya mengandalkan uang kas sehingga program berjalan dengan sederhana dan kurang optimal. Pada indikator strategi perencanaan program dan persiapan pelaksanaan program menunjukan kesesuaian program. Hasil evaluasi pada komponen process, mendapat skor 88,9% dengan hasil capaian kategori “sangat sesuai”. Meskipun capaian kategori tersebut telah “sangat sesuai”, kenyataannya masih terdapat hambatan pada proses pemberian materi. Pasalnya, anggota KWT belum mengetahui visi dan misi program tersebut. Pada indikator keberlangsungan program berjalan dengan lancar dan partisipasi anggota sangat aktif selama program berlangsung. Selain itu, hasil evaluasi product menunjukan skor terendah dari komponen evaluasi model CIPP yaitu mendapat skor 85,25% dengan kategori “sangat sesuai”. Hal tersebut terjadi karena kurangnya peningkatan pada pendapatan dikarenakan kurangnya pendampingan dalam segi pemasaran. Namun, pada indikator keterampilan menunjukan peningkatan yang ditandai dengan meningkatnya pengetahuan terkait berbagai olahan mawar setelah adanya program pemberdayaan. Berdasarkan hasil evaluasi, disarankan agar KWT Nawasena menjelaskan materi secara detail mengenai visi dan misi program kepada seluruh anggota agar pemahaman anggota semakin optimal. Selain itu pendampingan dalam aspek pemasaran juga perlu diperkuat melalui pelatihan pemasaran digital, pengemasan produk, dan perluasan jaringan kerja sama dengan berbagai pihak guna meningkatkan pendapatan anggota. Di samping itu, inovasi produk olahan mawar serta evaluasi program secara berkala perlu terus dilakukan agar program pemberdayaan dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan

Description

Finalisasi Maya_16 Oktober 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By