Upaya Pengendalian Banjir Bandang di Wilayah Hulu DAS Banyuputih

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Teknik

Abstract

Peristiwa banjir bandang berulang (2019 sampai 2023) di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Banyuputih, Kabupaten Situbondo, menunjukkan penurunan progresif dalam fungsi regulasi hidrologi lanskap hulu. Perubahan tutupan lahan di lereng curam diduga mempercepat respons aliran permukaan dan meningkatkan debit puncak banjir, menyoroti kebutuhan akan pengelolaan tutupan lahan yang berorientasi pada lereng. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan tutupan lahan dan mengevaluasi skenario pengelolaan lahan berbasis lereng untuk mengurangi risiko banjir bandang di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Banyuputih. Perubahan penggunaan lahan dianalisis menggunakan citra Sentinel-2 yang diproses pada platform ESRI dan dianalisis lebih lanjut menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan membandingkan kondisi pada tahun 2019 (pasca banjir) dengan kondisi pada tahun 2017 (sebelum banjir) dan tahun 2023 (banjir yang terakhir). Analisis hidrologi dilakukan menggunakan model hujan-aliran HEC-HMS berdasarkan metode Soil Conservation Service–Curve Number (SCS-CN), dengan memasukkan data hujan dan debit yang diamati untuk kalibrasi model. Hasil menunjukkan penurunan signifikan luas hutan dari 135,66 km² pada tahun 2017 menjadi 91,88 km² pada tahun 2019, disertai dengan perluasan lahan padang rumput dari 69,56 km² menjadi 110,52 km², mencerminkan degradasi vegetasi yang signifikan di wilayah hulu. Perubahan tutupan lahan ini menyebabkan peningkatan nilai Curve Number (CN) dan kenaikan debit puncak banjir dari 9,3 m³/s pada tahun 2017 menjadi 11,184 m³/s pada tahun 2019, yang mewakili peningkatan sekitar 20,4%. Sedangkan pada tahun 2023 menunjukkan penambahan pada tutupan hutan sekitar 11,21% dan menurunnya rangeland sebesar 11,28%. Ini mencerminkan adanya proses regenerasi vegetasi baik secara konservasi maupun alami. Perubahan tutupan lahan ini menyebabkan penurunan sedikit nilai Curve Number (CN) dan penurunan debit puncak banjir menjadi 11,157 m³/s pada tahun 2023 atau sekitar 1%. Skenario pemulihan tutupan lahan yang diterapkan pada area dengan kemiringan lebih dari 15% mengurangi debit puncak simulasi menjadi 8,490 m³/s, yang setara dengan penurunan sekitar 25% dibandingkan dengan tahun 2019 dan pada kemiringan lebih dari 10% mampu mengurangi debit puncak menjadi 8,261 m³/s atau mereduksi 27%. Sedangkan skenario Pembangunan embung mampu mereduksi debit banjir hingga 31% yaitu menjadi 7,823 %. Temuan ini menegaskan bahwa selain pengelolaan tutupan lahan hulu, terutama di lereng curam, skenario struktural juga memainkan peran kritis dalam mitigasi risiko banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Banyuputih.

Description

FINALISASI oleh Arif 2026 Juni 05

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By