Inflasi dan Disintermediasi Perbankan Umum di Indonesia
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Abstract
Inflasi global yang dipicu oleh fluktuasi harga minyak dunia memberi dampak besar pada perekonomian, termasuk di Indonesia. Lonjakan harga minyak tidak hanya menekan inflasi domestik, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan. Karena itu, Bank Indonesia perlu merespons melalui kebijakan moneter agar fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal. Fungsi intermediasi ini penting karena bank berperan menyalurkan dana masyarakat dalam bentuk kredit untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini menganalisis periode Januari 2011 hingga Desember 2019 dengan data bulanan. Selama periode tersebut, Indonesia beberapa kali mengalami tekanan inflasi yang dipicu harga minyak global. Untuk memahami dampaknya terhadap perbankan, penelitian ini menggunakan tiga saluran utama, yaitu net wealth (NETW), loan misallocation (LOANMIS), dan deposit outflow (DEPOOUT). Data sekunder diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dianalisis menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS). Selain itu, penelitian juga mengukur pengaruh eksposur inflasi dari mitra dagang utama Indonesia, yakni Singapura, Malaysia, Tiongkok, dan Amerika Serikat sebagai pembanding. Hasil penelitian menemukan bahwa dua saluran, yaitu NETW dan LOANMIS, memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas intermediasi perbankan di Indonesia. Ketika kekayaan bersih masyarakat menurun akibat inflasi, konsumsi dan tabungan berkurang, sehingga kemampuan bank menghimpun dana maupun menyalurkan kredit ikut terpengaruh. Demikian pula, penyaluran kredit yang tidak efisien atau salah sasaran (loan misallocation) terbukti dapat mengganggu kinerja intermediasi, terutama dalam kondisi inflasi tinggi. Sebaliknya, saluran DEPOOUT tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Artinya, meskipun terdapat potensi penarikan dana dari perbankan saat inflasi meningkat, faktor ini tidak cukup kuat untuk mengguncang stabilitas perbankan. Hal ini dapat disebabkan oleh kepercayaan masyarakat terhadap bank serta kebijakan stabilisasi yang dijalankan Bank Indonesia. Penelitian juga menunjukkan bahwa eksposur inflasi dari negara mitra dagang (Singapura, Malaysia, Tiongkok, maupun Amerika Serikat) tidak berpengaruh signifikan terhadap intermediasi perbankan umum di Indonesia. Dengan demikian, eksposur inflasi tidak memberikan dampak langsung pada fungsi intermediasi perbankan umum di Indonesia. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa faktor internal, terutama net wealth dan loan misallocation lebih berpengaruh terhadap stabilitas perbankan dibandingkan faktor eksternal berupa inflasi global. Temuan ini juga menekankan bahwa kebijakan Bank Indonesia berhasil meredam gejolak inflasi sehingga sistem perbankan tetap stabil sepanjang periode penelitian.
Description
Finalisasi Maya_21 Oktober 2026
