Analisis Biaya Non-Medis dan Productivity Loss pada Pasien Diabetic Foot Ulcer dengan HBOT di RS Paru Jember dan RSD dr. Soebandi

dc.contributor.authorPamelia Agnes Wijayanti
dc.date.accessioned2026-07-27T07:40:45Z
dc.date.issued2026-05-06
dc.descriptionValidasi file repositori 27 Juli 2026_Firli
dc.description.abstractDiabetic Foot Ulcer (DFU) merupakan salah satu komplikasi kronis dari Diabetes Mellitus yang memiliki dampak serius terhadap kualitas hidup, risiko amputasi, serta mortalitas. Selain dampak klinis, DFU juga menimbulkan beban ekonomi yang besar, terutama dari komponen biaya non-medis dan kehilangan produktivitas (productivity loss) yang sering kali kurang mendapat perhatian dalam evaluasi ekonomi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil karakteristik pasien DFU, besaran biaya non-medis, tingkat productivity loss, serta pengaruh Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) terhadap kedua komponen tersebut. Studi ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan crosssectional yang dilakukan pada pasien rawat jalan di RS Paru Jember dan RSD dr. Soebandi selama periode November 2025 hingga April 2026. Sebanyak 60 responden yang memenuhi kriteria inklusi dilibatkan, terdiri dari kelompok yang menerima HBOT dan kelompok tanpa HBOT. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner semi-terstruktur yang mencakup aspek sosiodemografi, klinis, biaya nonmedis, dan kehilangan produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien DFU berusia lanjut (rata-rata sekitar 60 tahun), berjenis kelamin laki-laki, tidak bekerja, dan memiliki pendapatan rendah. Seluruh responden didiagnosis dengan Diabetes Mellitus tipe 2. Dalam aspek biaya non-medis, komponen utama meliputi biaya transportasi, konsumsi, pengasuh, dan biaya tambahan lainnya. Biaya lain-lain, khususnya yang berkaitan dengan terapi HBOT, menjadi komponen terbesar. Secara keseluruhan, kelompok HBOT memiliki total biaya non-medis yang lebih tinggi dibandingkan kelompok non-HBOT. Namun, setelah biaya spesifik HBOT dikeluarkan, tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan biaya pada kelompok HBOT lebih disebabkan oleh intervensi terapi itu sendiri, bukan oleh peningkatan biaya non-medis lainnya. Pada aspek productivity loss, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara kelompok HBOT dan non-HBOT. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik responden yang sebagian besar tidak bekerja, sehingga kehilangan hari kerja relatif rendah. Secara keseluruhan, HBOT tidak secara langsung meningkatkan biaya non-medis, tetapi mengubah pola pengeluaran pasien. Terapi ini berpotensi memberikan efisiensi ekonomi jangka panjang melalui percepatan penyembuhan luka, pengurangan frekuensi kunjungan, serta penurunan risiko komplikasi seperti amputasi. Oleh karena itu, HBOT dapat dipertimbangkan sebagai strategi yang cost-effective dalam manajemen DFU, terutama pada kasus luka kronis.
dc.description.sponsorshipDosen Pembimbing Utama: Dr. apt. Afifah Machlaurin, S.Farm., M.Sc.,
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/12089
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Farmasi
dc.subjectDiabetic Foot Ulcer
dc.subjectProductivity Loss
dc.subjectHealth Economics
dc.subjectDiabetes Mellitus
dc.subjectBiaya Kesehatan
dc.subjectBiaya Non Medis
dc.titleAnalisis Biaya Non-Medis dan Productivity Loss pada Pasien Diabetic Foot Ulcer dengan HBOT di RS Paru Jember dan RSD dr. Soebandi
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
Repository.pdf
Size:
3.32 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: