Faktor Risiko Muskuloskeletal Disorders (MSDs) Pada Pekerja Konstruksi PT. Pembangunan Perumahan (Studi di Proyek Pembangunan Jalan Tol Probolinggo – Banyuwangi Paket 3)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Kondisi lingkungan kerja di sektor konstruksi dapat memperburuk kondisi MSDs dan meningkatkan prevalensi gangguan pada sistem musculoskeletal yang diawali dengan timbulnya rasa nyeri atau sakit pada beberapa bagian tubuh. Hal ini selaras dengan kondisi pekerja di proyek pembangunan jalan tol Probolinggo-Banyuwangi Paket 3 yang dibawahi oleh PT. Pembangunan Perumahan. Selain itu, pola aktivitas pekerjaan secara tidak langsung menuntut pengerahan energi secara berlebih dengan pergerakan tubuh yang dinamis di bawah tekanan ditambah durasi kerja yang dapat melebihi 8 jam kerja serta didukung dengan kondisi lingkungan kerja yang ekstrim, memperkuat urgensi penelitian untuk mengkaji faktor-faktor yang berisiko menimbulkan Musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja konstruksi PT. Pembangunan Perumahan Proyek Tol Probolinggo-Banyuwangi Paket 3.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan PT. Pembangunan Perumahan Proyek Tol Probolinggo-Banyuwangi Paket 3 pada bulan Januari hingga Maret 2026. Variabel dalam penelitian ini meliputi usia, masa kerja, indeks masa tubuh, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, beban kerja fisik, durasi dan postur kerja dengan sebanyak 61 pekerja lapang menjadi sampel penelitian. Data penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui pengukuran langsung terhadap beban kerja fisik, postur kerja, dan keluhan MSDs serta pengisian kuesioner terkait karakteristik individu. Sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil studi literatur dan data perusahaan berupa jumlah pekerja yang terlibat dalam pembangunan. Pengumpulan data menggunakan metode yang bervariasi, secara subjektif keluhan MSDs menggunakan kuesioner NBM, lalu pengukuran postur kerja menggunakan metode QEC yang mengintegrasikan perspektif pekerja dan peneliti. Selain itu, indeks massa tubuh diukur melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan, serta analisis beban kerja fisik menggunakan metode %CVL yang melihat denyut nadi saat istirahat yakni sebelum melakukan kerja dan saat bekerja yang diukur dalam rentang pukul 10.00 – 11.00 WIB. Data dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variabel dan secara bivariat dengan uji chi-square menggunakan program SPSS.
Hasil pengukuran menunjukkan, mayoritas pekerja lapang tergolong dalam rentang usia 25 – 40 tahun yakni sebesar 47,5% dan status gizi yang tergolong normal (70,7%) dengan masa kerja di bawah 6 tahun (73,8%) dan durasi kerja yang melebihi 8 jam kerja per hari (54,1%) ditambah memiliki kebiasaan merokok yang tinggi (80,3%) dan kebiasaan berolahraga kurang dari 1 kali per minggu (88,5%). Kemudian dari aspek kesehatan kerja, mayoritas pekerja lapang tergolong dalam keluhan MSDs tingkat rendah (62,3%), disertai dengan beban kerja fisik yang tergolong ringan (82%), serta tingkat risiko postur kerja yang tergolong memerlukan investigasi lanjut dan perbaikan segera (93,4%). Hasil analisis bivariat menunjukkan hanya beban kerja fisik yang memiliki hubungan signifikan dengan keluhan MSDs (p-value = 0,050). Sedangkan, variabel lain tidak menunjukkan adanya hubungan signifikan antara variabel usia (p-value = 0,285), IMT (p-value = 0,779), kebiasaan merokok (p-value = 0,311), kebiasaan berolahraga (p-value = 0,740), durasi kerja (p-value = 0,409), masa kerja (p-value = 0,927), dan postur kerja (p-value = 0,600) dengan keluhan MSDs.
Saran yang dapat diberikan diantaranya adalah memperketat aturan tagging dan menetapkan 3 waktu tertentu untuk wajib peregangan mandiri perharinya serta pengadaan media komunikasi berisi panduan gerakan peregangan pada titik strategis yang mudah dijangkau oleh pekerja dalam proyek. Bagi peneliti selanjutnya mengkombinasikan metode REBA dan Revised NIOSH Lifting Equation untuk merekam postur janggal dan mengukur batas beban aman bagi pekerja. Bagi pekerja, disarankan untuk melakukan peregangan mandiri sesuai waktu yang telah ditetapkan dan lebih peka dalam mengenali rasa pegal dalam tubuh.
Description
Validasi dan Finalisasi Repositori File 27 Juli 2026_Kholif Basri
