Peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa dengan Orang Tua Bercerai di Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Perceraian orang tua merupakan fenomena sosial yang memiliki dampak signifikan terhadap kondisi psikologis remaja, khususnya dalam hal kesehatan mental dan kemampuan mereka dalam menghadapi tekanan hidup. Dampak tersebut dapat berupa stres, kecemasan, depresi, penurunan motivasi belajar, hingga gangguan dalam membentuk hubungan sosial yang sehat. Kabupaten Jember menjadi salah satu daerah dengan angka perceraian tertinggi di Jawa Timur, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kesejahteraan psikologis remaja yang terdampak. Dalam menghadapi tantangan ini, kemampuan resiliensi menjadi aspek penting yang perlu dimiliki oleh remaja agar mampu bangkit dan berfungsi secara optimal dalam situasi yang sulit. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam mengembangkan resiliensi melalui layanan Bimbingan dan Konseling. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru BK dalam meningkatkan resiliensi siswa dengan orang tua bercerai di Kabupaten Jember, dengan menggunakan pendekatan teori Stimulus-Organism-Response (S-O-R).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan fenomenologi di Kabupaten Jember pada bulan Februari hingga April 2025. Teknik pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada 7 informan utama yaitu guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan 3 informan tambahan yaitu siswa informan utama yang orang tuanya bercerai. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber serta data dianalisis menggunakan thematic analysis.
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar guru Bimbingan dan Konseling (BK) melakukan evaluasi dan identifikasi resiliensi siswa dari keluarga bercerai melalui metode yang belum terstruktur dan sistematis, seperti wawancara spontan saat konseling dan observasi perilaku sehari-hari. Dalam praktik pemberian edukasi, sebagian besar guru BK belum menyampaikan konsep resiliensi secara sistematis, melainkan hanya melalui nasihat-nasihat spontan selama sesi konseling individual. Seluruh guru BK terlibat dalam identifikasi pola pikir negatif serta membimbing siswa menuju pola pikir yang lebih adaptif melalui konseling individual. Upaya pengembangan keterampilan coping siswa juga dilakukan melalui pendekatan emotion-focused coping dalam sesi konseling individual. Kolaborasi dengan pihak lain seperti orang tua, guru, teman sebaya, dan psikolog telah dilakukan oleh sebagian besar guru BK, meskipun terdapat satu guru yang tidak menjalin kolaborasi karena permintaan kerahasiaan dari siswa. Instrumen evaluasi dan pemantauan yang terukur dan berkelanjutan belum digunakan secara umum, karena sebagian besar guru masih mengandalkan pendekatan informal seperti konsultasi berkala, observasi sosial, serta kerja sama dengan guru wali kelas dan teman dekat.
Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember mengembangkan program pelatihan dan pendampingan bagi guru bimbingan dan konseling dalam penggunaan instrumen evaluasi resiliensi yang terstruktur serta materi edukasi resiliensi berbasis pendekatan psikososial. Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jember perlu menyusun kebijakan teknis serta pelatihan terstandar mengenai evaluasi dan edukasi resiliensi yang sistematis. Sekolah diharapkan memberikan dukungan kelembagaan, menyediakan modul edukasi, serta memfasilitasi penggunaan instrumen pemantauan resiliensi yang terukur dan berkelanjutan. Peneliti selanjutnya disarankan meneliti secara langsung pengalaman remaja korban perceraian dalam menerima dukungan sosial dari lingkungan sekolah dan pengaruhnya terhadap resiliensi.
Description
Reuploud Fie Repository 2 Februari 2026 Maya/Mita
