Pengembangan dan Validasi Kemometer Berbasis Benang untuk Deteksi Kreatinin dalam Urin

dc.contributor.authorEno Artha Syabita
dc.date.accessioned2026-06-10T08:39:15Z
dc.date.issued2025-07-21
dc.descriptionFinalisasi_Maya_10 Juni 2026
dc.description.abstractUrin adalah produk limbah yang dihasilkan oleh ginjal melalui proses filtrasi darah, berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh seperti kelebihan air, garam, dan produk metabolisme. Salah satu komponen penting dalam urin adalah kreatinin, yang merupakan hasil metabolisme kreatin, zat yang terlibat dalam produksi energi di otot. Kadar kreatinin dalam urin dapat memberikan informasi penting mengenai fungsi ginjal dan kesehatan secara keseluruhan, sehingga diperlukan metode deteksi yang cepat dan akurat. Kreatinin merupakan produk sisa metabolisme kreatin dan diekskresikan oleh ginjal, berfungsi sebagai indikator penting dalam menilai fungsi ginjal, sehingga kadar kreatinin yang abnormal dapat memberikan petunjuk awal tentang adanya gangguan fungsi ginjal (seperti PGK) yang secara alami ditemukan dalam berbagai cairan biologis tubuh seperti darah, urin, dan saliva. Kadar kreatinin dalam urin biasanya diukur untuk evaluasi fungsi ginjal dan klirens kreatinin yang memerlukan pengumpulan urin selama 24 jam. Sensor kemometer menawarkan kenyamanan, keamanan, kesederhanaan, efektivitas biaya, dan kemudahan penggunaan yang lebih baik dibandingkan metode yang menggunakan sampel darah . Kombinasi material yang tepat tidak hanya menghasilkan perubahan warna yang berbeda, namun juga memungkinkan deteksi simultan yang lebih akurat dan memberikan kuantifikasi analit secara independen dengan respon visual yang dapat dibedakan secara kasat mata. Kemometer yang digunakan dalam penelitian ini berbasis benang. Kondisi optimum dari kemometer ini yaitu volume optimum sampel yang diteteskan pada reservoir kemometer adalah 60 µL, konsentrasi reagen yang digunakan adalah NaOH 4% dan asam pikrat 0,5% dengan waktu imobilisasi reagen pada kemometer adalah 120 menit. Respons yang diamati untuk deteksi kreatinin adalah perubahan panjang pita warna dari kuning menjadi oranye pada kemometer dalam milimeter (mm) yang dihasilkan dari reaksi yang terjadi pada benang tersebut. Karakterisasi sensor kemometer menunjukkan kinerja yang baik, dengan koefisien korelasi linearitas kreatinin rentang 600-1800 mg/L sebesar 0,978. Sensor ini memiliki batas deteksi (LOD) 229,121 mg/L dan batas kuantifikasi (LOQ) 694,035 mg/L. Sensor kemometer memiliki sensitivitas yang baik dalam deteksi kreatinin dengan nilai slope 0,0235, selektivitas yang memadai, di mana keberadaan pengganggu seperti glukosa, asam urat dan urea dalam sampel urin tidak memengaruhi kinerja reagen pada sensor. Presisi sensor kurang baik dengan nilai RSD 5,23% dan hasil akurasi nilai % recovery 103,032%. Sensor kemometer ini dapat digunakan untuk mendeteksi kreatinin pada sampel urin.
dc.description.sponsorshipDosen Pembimbing Utama : Prof. Drs. Bambang Kuswandi, M.Sc., Ph.D.
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/8592
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Farmasi
dc.subjectNaOH
dc.subjectDeteksi Kreatinin
dc.titlePengembangan dan Validasi Kemometer Berbasis Benang untuk Deteksi Kreatinin dalam Urin
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
Eno Artha Syabita - 212210101012.pdf
Size:
2.04 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: