Tahapan Rehabilitasi Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pada Yayasan Berkas Bersinar Abadi Kabupaten Lamongan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Yayasan Berkas Bersinar Abadi telah berhasil mengentaskan 210 pasien
dengan gangguan jiwa. Selain itu Yayasan juga mencapai keberhasilan dengan
meraih penghargaan sebagai lembaga perawatan ODGJ nomor satu di tingkat
nasional. Prestasi ini bukan hanya menempatkan yayasan sebagai pemimpin dalam
pelayanan kesehatan jiwa, tetapi juga menjadikannya satu-satunya yayasan di
Kabupaten Lamongan yang bermitra resmi dengan Dinas Sosial setempat. Dedikasi
dan komitmen yayasan dalam memberikan layanan berkualitas tinggi juga
mendapatkan perhatian publik yang luas, hingga pendiri Yayasan diundang sebagai
bintang tamu dalam salah satu podcast dengan jumlah pendengar yang signifikan.
Kehadiran pendiri yayasan dalam podcast tersebut tidak hanya menjadi momen
untuk berbagi pengalaman dalam hal merawat ODGJ, tetapi juga menjadikannya
sebagai role model bagi panti rehabilitasi lainnya dalam memberikan pelayanan
yang profesional dan berdampak positif.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penentuan lokasi penelitian
menggunakan teknik purposive area, yakni Yayasan Berkas Bersinar Abadi.
Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dan pengumpulan
data dengan observasi, wawancara semi-struktur serta dokumentasi. Teknik analisis
data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penyimpulan
dan verifikasi data. Keabsahan data menggunakan teknik triangulasi dengan
membandingkan hasil wawancara dengan hasil observasi.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa ada lima tahapan rehabilitasi
yang dilakukan Yayasan Berkas Bersinar Abadi. Pertama adalah tahap
penjangkauan dan rekruitmen. Penjangkauan dilakukan oleh ketua yayasan melalui
pendekatan secara langsung pada ODGJ yang ditemui di jalan, atau dari laporan
masyarakat mengenai keberadaan ODGJ yang meresahkan. Setelah ODGJ bersedia
untuk diajak ke yayasan, ODGJ dilayani untuk bersih diri. Di panti, pendamping
memberikan kebutuhan dasar ODGJ yang baru datang. Tahap kedua adalah
asesmen yang dilakukan oleh pendamping untuk identifikasi potensi dan oleh
psikiater untuk identifikasi tingkat gangguan jiwa. Hasil asesmen digunakan
sebagai dasar untuk tahap intervensi. Bagi ODGJ yang mengalami tingkat
gangguan jiwa sedang hingga tinggi disertai agresivitas akan mendapat layanan
psikiatri. Bagi ODGJ dengan tingkatan gangguan jiwa ringan dan yang sudah mulai
tenang, akan mengikuti bimbingan fisik dan rohani. Bimbingan fisik ditujukan
untuk kebugaran dan meningkatkan mood, antara lain melalui kegiatan senam pagi,
jalan-jalan di sekitar yayasan, olahraga, dan bersih-bersih kamar. Bimbingan rohani
ditujukan untuk memperkuat sisi spiritualisme pasien, antara lain melalui kegiatan
sholat berjamaah, membaca Al Qur’an, program Ruqyah secara bergilir. Tahap
resosialisasi dilakukan saat pasien dinyatakan sembuh dan mendapat surat tanda
sehat dari yayasan. Bagi ODGJ yang memiliki keluarga, yayasan meminta keluarga
untuk menjemput dan memberi edukasi tentang obat-obatan yang harus dikonsumsi
pasien. Bagi ODGJ terlantar, yayasan mencari keberadaan keluarga melalui media
sosial milik ketua yayasan. Apabila tidak ditemukan, maka pasien tetap tinggal di
yayasan atau dirujuk ke panti wreda. Dari tahapan tersebut, hal yang paling
membantu kesembuhan pasien adalah kepedulian dan ketulusan dari pihak-pihak
yang memberi layanan seperti ketua yayasan, pendamping-pendamping dan
psikiater. Kelemahan yang masih diperkuat adalah belum adanya bimbingan untuk
kemandirian ekonomi pasien dan pemantauan pasca rehabilitasi.
Description
Reuploud file repositori 12 Feb 2026_Firli
