Characterisation of Commercially Grown Ganoderma Lucidum (Curtis) P. Karst from China and Indonesia Based on Morphology and Biomacromolecules.
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Ganoderma lucidum atau lebih dikenal sebagai jamur lingzhi merupakan
jamur yang banyak dibudidayakan karena kandungan senyawa bioaktifnya yang
bermanfaat, seperti triterpenoid dan polisakarida. Selain dikenal dalam dunia
kesehatan, jamur ini juga memiliki potensi sebagai agen pengendali hayati
(biological control) dalam pertanian. Namun, kondisi lingkungan tempat jamur ini
tumbuh seperti suhu, kelembaban, dan media tanam dapat memengaruhi karakter
morfologi maupun molekulernya. Perbedaan lingkungan antara China (beriklim
subtropis) dan Indonesia (beriklim tropis) diduga menyebabkan variasi pada strain
G.lucidum yang dibudidayakan secara komersial di kedua negara tersebut. Masalah
yang diangkat dalam penelitian ini adalah kurangnya data pembanding antara
karakteristik jamur G.lucidum dari China dan Indonesia baik secara morfologis
maupun molekuler.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan
karakter morfologi dan biomakromolekul (khususnya DNA) dari G.lucidum yang
berasal dari China dan Indonesia, guna mengetahui apakah terdapat perbedaan yang
signifikan di antara keduanya. Sampel jamur G.lucidum diambil dari dua sumber:
satu berasal dari Kalimantan (Indonesia) dan satu lagi berasal dari China.
Identifikasi morfologi dilakukan melalui pengamatan makroskopis (warna tudung,
bentuk pori, permukaan tubuh buah) dan mikroskopis (ukuran pori, ukuran hifa,
dan spora). Analisis molekuler dilakukan dengan ekstraksi DNA dan amplifikasi
daerah ITS (Internal Transcribed Spacer) menggunakan PCR. Produk PCR
kemudian dianalisis menggunakan elektroforesis gel agarosa untuk
membandingkan ukuran fragmen DNA dari kedua sampel. Data morfologi dan
DNA dianalisis secara deskriptif dan statistik (uji Wilcoxon) untuk melihat
perbedaan signifikan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan morfologi antara jamur
dari Indonesia dan China. Sampel Indonesia memiliki warna tudung yang lebih
gelap, ukuran pori yang lebih besar dan bentuk pori yang lebih tidak beraturan, serta
hifa yang cenderung lebih lebar. Secara molekuler, terdapat perbedaan panjang
fragmen DNA hasil PCR: sampel Indonesia menghasilkan fragmen sepanjang 650
bp, sedangkan sampel China menghasilkan fragmen sepanjang 636 bp. Perbedaan
ini menunjukkan adanya variasi genetik kecil namun penting yang dapat
mencerminkan perbedaan strain atau adaptasi lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan morfologi dan
molekuler yang signifikan antara G.lucidum dari China dan Indonesia. Perbedaan
tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh lingkungan serta adaptasi
genetik yang berlangsung seiring budidaya di masing-masing wilayah. Temuan ini
penting untuk pengembangan budidaya jamur yang sesuai dengan kondisi lokal dan
memastikan konsistensi kualitas produk berbasis G.lucidum di bidang kesehatan
maupun pertanian.
Description
Reupload File Repositori 6 Februari 2026_Rudy K/Lia
