Analisis Wacana Kritis Konferensi Pers Mahfud MD Terkait Hasil Investigasi Tragedi Kanjuruhan Malang
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Tragedi Kanjuruhan Malang terjadi saat laga Arema FC melawan Persebaya
digelar di Stadion Kanjuruhan Malang pada tanggal 1 Oktober 2022 lalu. Tidak
hanya duka bagi Indonesia, tetapi tragedi ini juga menjadi duka bagi dunia.
Masyarakat memperdebatkan penyebab terjadinya kerusuhan ini. Ada yang
berasumsi bahwa kerusuhan tersebut diakibatkan oleh suporter Arema yang tidak
terima akan kekalahan yang mereka dapatkan, ada juga yang berasumsi bahwa
kerusuhan tersebut diakibatkan oleh tindakan aparat keamanan yang
menyemprotkan gas air mata kepada suporter. Masyarakat, terutama keluarga
korban menuntut keadilan serta mengharapkan tragedi ini dapat diusut secara tuntas,
untuk itu pemerintah membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta
(TGIPF) untuk menyelidiki terjadinya tragedi Kanjuruhan tersebut. Beberapa kali
TGIPF melakukan konferensi pers terkait kemajuan kasus tragedi Kanjuruhan,
sampai terakhir kali mereka menggelar konferensi pers terkait hasil investigasi yang
telah mereka lakukan.
Konferensi pers ini dikaji berdasarkan dimensi teks, dimensi praktik wacana
dan dimensi praktik sosiokultural. Data penelitian diperoleh dari video berdurasi 05
menit 35 detik yang disiarkan melalui kanal Youtube METRO TV berjudul
“Breaking News – Mahfud MD Sampaikan Hasil Investigasi Tragedi Kanjuruhan”.
Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dan
teknik simak bebas libat cakap, peneliti berperan sebagai pengamat dan tidak
terlibat langsung dalam peristiwa pertuturan yang sedang diteliti.
Hasil penelitian menunjukkan wacana konferensi pers Mahfud MD terkait
hasil investigasi tragedi Kanjuruhan Malang berdimensi teks, dimensi praktik
wacana, dan dimensi praktik sosiokultural yang kompleks. Pada dimensi teks,
kosakata dan kalimat yang digunakan Mahfud MD dalam menyampaikan hasil
laporan investigasi tragedi Kanjuruhan Malang menunjukkan bahwa wacanatersebut tidak sekadar berfungsi sebagai penyampaian informasi, tetapi sarat dengan
strategi bahasa untuk membangun otoritas negara, menjaga legitimasi, dan
mengatur persepsi publik. Melalui representasi tragedi, relasi formal, serta identitas
sebagai wakil negara, Mahfud MD menggunakan bahasa sebagai instrument
kekuasaan dalam ranah politik dan komunikasi krisis.
Pada dimensi praktik wacana, menunjukkan bahwa proses produksi wacana
konferensi pers Mahfud MD terkait hasil investigasi tragedi Kanjuruhan Malang
didapatkan dari hasil pemeriksaan dari berbagai pihak seperti BRIN, PUPR,
MENPORA, dan MENKES. Pada proses konsumsi teks, terdapat dua tanggapan
dari masyarakat, yaitu tanggapan positif dan tanggapan negatif yang disampaikan
melalui kolom komentar di kanal Youtube MetroTv dan media sosial. Konsumsi
wacana oleh publik berlangsung secara dinamis dan kritis. Publik, melalui komentar
di media sosial dan diskusi daring, menunjukkan adanya resistensi makna terhadap
narasi resmi. Hal ini memperlihatkan bahwa wacana tidak hanya dikonsumsi, tetapi
juga dinegosiasikan dan bahkan dilawan.
Pada dimensi praktik sosiokultural, konteks sosial yang memperlihatkan
kegaduhan masyarakat terhadap tragedi Kanjuruhan ini mempengaruhi
terbentuknya wacana hasil investigasi tragedi Kanjuruhan. Dalam dimensi ini,
institusi yang terlibat seperti pemerintah melalui TGIPF, PSSI, organisasi FIFA,
pihak keamanan stadion, serta BRIN turut mempengaruhi wacana yang muncul.
Wacana yang disampaikan juga mencerminkan nilai-nilai budaya Indonesia yang
menekankan sifat gotong royong dan kebersamaan dalam menghadapi musibah. Hal
ini terlihat dari ajakan Mahfud MD kepada seluruh elemen masyarakat untuk
bersama-sama mencari solusi dan memastikan agar tragedi serupa tidak terulang
lagi di masa depan.
Description
Entry oleh Arif 2026 Februari 23
