Unsur Naratif dalam Mendukung Tokoh Minke: Kajian Komparatif Film Bumi Manusia dan Novel Bumi Manusia
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Dewasa ini, film adaptasi seringkali muncul dalam pertunjukan layar lebar. Salah satunya pada film adaptasi yang mendapatkan perhatian luas karya Pramoedya Ananta Toer yakni novel Bumi Manusia. Secara umum, novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer mengisahkan kritik terhadap kondisi kolonialisme Belanda di Hindia Belanda, serta menggambarkan penindasan yang dialami oleh kaum pribumi pada masa tersebut. Pada 15 Agustus 2019, karya novel Bumi Manusia berhasil diadaptasi menjadi sebuah film berdurasi 180 menit di layar lebar Indonesia. Keberhasilan film ini tidak hanya didukung oleh aspek visual dan akting yang berkualitas, tetapi juga kemampuan sutradara dalam menghidupkan pesan-pesan moral mendalam. Menariknya film ini berhasil menyentuh hati penonton dengan membawa kisah perjuangan Minke ke layar lebar. Penelitian ini didorong oleh ketertarikan peneliti dalam mengkaji unsur naratif dalam novel dan film Bumi Manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh Linda Hutcheon bahwa adaptasi merupakan sebuah reinterpretasi yang membuka peluang untuk mengeksplorasi makna baru dari karya asli. Berdasarkan pandangan ini, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan dan persamaan unsur naratif tokoh Minke di novel dan film Bumi Manusia tersebut.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan komparatif oleh John W. Creswell. pendekatan penelitian yang digunakan untuk membandingkan dua lebih karya yang berbeda, seperti novel dan adaptasi dalam bentuk film. Pendekatan komparatif diperlukan untuk mendapatkan wawasan yang mendalam terkait isu yang teliti. Dalam hal ini, peneliti berusaha menemukan adanya unsur naratif yang mendukung tokoh Minke dalam film Bumi Manusia dan novel Bumi Manusia. Dalam melakukan penelitian, peneliti tidak terikat oleh tempat. Waktu yang digunakan dalam proses penelitian dimulai pada September 2024 sampai Juni 2025. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan studi pustaka. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap diantaranya reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian dari penelitian ini adalah novel dan film adalah dua karya yang memiliki medium berbeda. Film hasil adaptasi dalam penelitian ini memiliki perbedaan dan kesamaan. Perbedaan banyak ditemukan saat menganalisis penokohan, latar, suasana, gaya atau style, dan genre. Perbedaan yang terjadi diantaranya penciutan, penambahan, dan perubahan variasi dalam karya. Dalam menganalisis novel dan film Bumi Manusia terdapat empat penciutan latar tempat, empat penambahan latar tempat, dan lima perubahan variasi latar tempat. Disamping itu, terdapat empat perubahan variasi pada suasana. Diantaranya suasana menegangkan, menakutkan, romantis, dan tragis menyedihkan. Pada style atau gaya terdapat tiga perubahan variasi diantaranya gaya penceritaan, gaya bahasa, dan gaya penyampaian alur. Pada genre terdapat perubahan variasi genre yakni genre drama.
Adanya pengurangan, penambahan, dan perubahan variasi seperti yang dijelaskan di atas berdampak pada beberapa hal. Pertama, pada latar cenderung menyederhanakan kompleksitas sosial politik pada masa Hindia Belanda, sedangkan penambahan latar menambahkan estetika baru namun menggeser fokus perjuangan spiritual Minke. Kedua, pada suasana berdampak apabila peonton tidak membaca novelnya tidak secara utuh merasakan perjuangan batin Minke. Berbeda dengan pembaca yang bisa merasakan perjuangan Minke mulai dari perlakuan diskriminasi, percintaan yang rumit, dan perjuangannya melawan pengadilan putih. Ketiga pada gaya bahasa yang digunakan film lebih ringkas dan realistis, sedangkan pada novel cenderung puitis, formal, dan penuh filosofi. Hal ini berdampak pada nuansa sastra yang dituangkan dalam film tidak sepenuhnya tersampaikan. Keempat pada genre, terjadi perubahan variasi dari sastra sejarah menjadi drama. Perubahan tersebut berdampak pada film dapat dicerna dan dinikmati oleh audiens yang kurang mengerti menenai Indonesia di abad 20-an. Ketidakadilan hukum dan diskriminasi yang dilakukan oleh Belanda pada Indonesia kala itu, disederhanakan dalam konflik drama antara Nyai Ontosoroh melawan hukum Belanda.
Description
Reupload file Repositori 10 Februari 2026_Kholif/Keysa
