Campur Kode dalam Bahasa Jawa pada Postingan Akun Instagram @nantikitasambattentanghariini
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Penelitian ini secara spesifik mengkaji fenomena campur kode dalam
konteks media sosial Instagram, dengan objek utama berupa postingan akun
@nantikitasambattentanghariini. Kajian ini berfokus pada penggunaan tiga
bahasa, yaitu bahasa Jawa sebagai kode dasar, yang disisipi dengan bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu tuturan. Keunikan penelitian ini terletak
pada analisis terhadap postingan utama, bukan kolom komentar, yang
membedakannya dari penelitian-penelitian sejenis sebelumnya. Permasalahan
pertama yang dikaji adalah identifikasi bentuk dan jenis campur kode berdasarkan
klasifikasi linguistik, mencakup unsur kata, frasa, baster, kata berulang, idiom,
dan klausa. Permasalahan kedua menitikberatkan pada faktor-faktor
sosiolinguistik yang melatarbelakangi terjadinya campur kode dalam komunikasi
digital tersebut. Kedua rumusan masalah ini dikaji untuk memahami bagaimana
strategi kebahasaan ini berfungsi dalam mengekspresikan identitas dan emosi
pemilik akun Gen-Z di media sosial. Secara metodologis, data diperoleh melalui observasi langsung dan dokumentasi terhadap postingan pada akun Instagram @nantikitasambattentanghariini. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi tahap reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori campur kode dari Suwito
(1983) digunakan untuk mengklasifikasikan bentuk campur kode, sementara
faktor penyebabnya dianalisis berdasarkan teori Hoffman (1991) dan Suwito
(1983). Hasil penelitian ini mengkaji fenomena campur kode dalam bahasa Jawa
pada postingan akun Instagram @nantikitasambattentanghariini, yang secara
konsisten menggunakan bahasa Jawa sebagai kode dasar dan menyisipkan unsur
bahasa Indonesia serta bahasa Inggris. Dari analisis terhadap data postingan, ditemukan enam bentuk campur kode, yaitu kata (kata asal, kata berimbuhan, kata
berulang, dan kata majemuk), frasa, dan baster, sementara bentuk idiom dan
klausa tidak ditemukan. Bentuk yang paling dominan adalah campur kode dalam
bentuk kata, terutama kosakata bahasa Inggris seperti deadline, upload, atau
resign, lalu penggunaan frasa seperti work life balance, serta kata majemuk
populer seperti August dump. Sementara unsur bahasa Indonesia masuk lebih
sering berperan dalam struktur gramatikal, penegasan makna, atau penyebutan
istilah yang telah terserap dalam percakapan sehari-hari. Kemunculan campur
kode ini menunjukkan bahwa pemilik akun memanfaatkan tiga bahasa untuk
mengekspresikan emosi, keluhan, dan humor dengan lebih fleksibel. Faktor yang
melatarbelakangi terjadinya campur kode meliputi kebutuhan pemilik akun
membicarakan topik tertentu dengan istilah yang lebih spesifik atau universal,
menegaskan pesan secara emosional, serta menyesuaikan ragam bahasa dengan
situasi komunikasi yang santai dan kekinian. Selain itu, identitas sosial dan etnis
pemilik akun yang merepresentasikan generasi muda Jawa yang bilingual dan
dekat dengan budaya digital menjadi alasan kuat terjadinya penelitian ini.
Secara keseluruhan, pola penggunaan bahasa ini tidak hanya memfasilitasi
ekspresi yang lebih hidup dan humoris, tetapi juga merefleksikan identitas ganda
pemilik akunnya sebagai bagian dari komunitas lokal Jawa sekaligus warga global
yang melek teknologi. Dengan mempertahankan bahasa Jawa sebagai dasar
sambil menyisipkan unsur bahasa lain, pemilik akun berhasil menciptakan gaya
komunikasi yang personal, akrab, sekaligus modern, yang sesuai dengan karakter
audiens media sosial masa kini.
Description
Reupload file repositori 09 Mei 2026_Maya
FINALISASI oleh Arif 2026 Juni 15
