Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Temu Giring Terhadap Persentase Jumlah Neutrofil dan Limfosit pada Mencit yang Diinduksi Formalin
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Inflamasi merupakan respon alami tubuh manusia terhadap adanya patogen yang masuk ke dalam tubuh. Inflamasi biasanya ditandai dengan adanya lima tanda kardinal, yaitu rubor (kemerahan), calor (panas), tumor (pembengkakan), dolor (rasa sakit), dan functio laesa (gangguan fungsi). Respon inflamasi dapat berlangsung singkat dalam beberapa jam atau hari (akut) maupun berlangsung lambat dalam beberapa minggu atau bulan (kronik) tergantung dari tingkat keparahan paparan patogen yang masuk ke tubuh. Respon inflamasi yang progresif dan berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan jaringan serta berujung pada timbulnya penyakit-penyakit lainnya. Maka dari itu, respon inflamasi dapat menjadi kondisi yang berbahaya apbila tidak diatasi dengan baik. Adapun golongan obat antiinflamasi yang sering digunakan adalah golongan steroid dan non-steroid (Non-Steroid Antiinflamatory Drugs atau NSAID). Selain obat-obatan sintesis, pengembangan tanaman herbal sebagai alternatif pengobatan di Indonesia mulai banyak dilakukan. Salah satu tujuan pengembangan obat-obatan dari tanaman herbal adalah untuk mencari kandidat obat yang memiliki efek samping lebih kecil dibandingkan obat-obatan sintesis, namun juga memiliki efek farmakologi yang baik.. Contoh tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan antiinflamasi adalah tanaman temu giring (Curcuma heyneana). Temu giring diduga memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi karena mengandung berbagai senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak temu giring terhadap persentase jumlah neutrofil dan limfosit mencit yang diinduksi formalin untuk melihat kemampuan antiinflamasi tanaman temu giring.
Jenis penelitian yang digunakan adalah true-experimental laboratories dengan posttest only control design. Mencit sebanyak 24 ekor dibagi menjadi 6 kelompok yang setiap kelompoknya berisi 4 ekor mencit. Pada hari pertama diberikan perlakuan secara per oral dimana kelompok sham dan kelompok kontrol negatif diberi suspensi CMC-Na, kelompok kontrol positif diberi suspensi natrium diklofenak dosis 10 mg/kgBB, dan 3 kelompok perlakuan diberi ekstrak temu giring masing-masing dengan dosis 125 mg/kgBB, 250 mg/kgBB, dan 500 mg/kgBB. Setelah satu jam, mencit kelompok sham diinjeksi dengan normal saline dan 5 kelompok lainnya diinduksi formalin secara intraplantar. Pemberian perlakuan per oral dilanjutkan selama 7 hari. Pada hari ke-8 sampel darah setiap mencit diambil melalui sinus orbital dan dibuat sediaan apusan darah tepi. Pengamatan di bawah mikroskop dilakukan untuk mencari 100 leukosit untuk kemudian dihitung persentase jumlah neutrofil dan limfosit dari setiap mencit pada setiap kelompok perlakuan.
Data persentase jumlah neutrofil dan limfosit dari setiap kelompok perlakuan diuji statistik menggunakan One Way Anova dan uji post hoc untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ekstrak temu giring dapat menurunkan persentase jumlah neutrofil dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yang mewakili kondisi inflamasi. Selain itu, ekstrak temu giring juga memiliki kemampuan yang hampir sebanding dengan kelompok kontrol positif dalam meningkatkan persentase jumlah limfosit pada mencit yang diinduksi formalin pada kelompok kontrol negatif. Kemampuan temu giring dalam mempengaruhi persentase jumlah leukosit diferensial, termasuk neutrofil dan limfosit sejalan dengan kemampuan beberapa tanaman dari genus Curcuma lainnya.
Ditinjau dari parameter persentase jumlah neutrofil dan limfosit, dosis ekstrak temu giring yang paling efektif untuk menurunkan persentase jumlah neutrofil dan meningkatkan persentase jumlah limfosit adalah dosis 250 mg/kgBB dibandingkan dengan dosis 125 mg/kgBB dan 500 mg/kgBB. Terpilihnya dosis tengah sebagai dosis efektif menandakan bahwa peningkatan dosis tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan efek farmakologi. Hal ini didukung oleh beberapa teori seperti grafik inverted U shaped, teori spare receptor, dan teori saturasi reseptor. Kemampuan temu giring dalam memberikan efek terhadap persentase jumlah neutrofil dan limfosit diduga karena adanya aktivitas beberapa senyawa aktif seperti flavonoid, terpenoid, alkaloid, kurkumin, tanin, saponin, dan minyak atsiri.
Description
Reupload file repositori 09 Feb 2026_Maya
