Pemodelan Hujan Aliran Menggunakan Software Hec-Hms Berdasarkan Data Curah Hujan Satelit Chirps (Studi Kasus Das Kalibaru)

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Teknik

Abstract

Kejadian banjir di Kalibaru Wetan tidak dapat dihindari, oleh karena itu, diperlukan pemahaman mengenai karakteristik hujan aliran di DAS Kalibaru sehingga dapat dilakukan upaya antisipatif untuk mengatasi risiko banjir dengan memanfaatkan prediksi debit berdasarkan data hujan yang tersedia. Namun, seringkali terdapat kekurangan data pada data hujan yang ada, sehingga alternatif menggunakan data curah hujan satelit, seperti yang dihasilkan oleh satelit CHIRPS dengan resolusi tinggi 0,05°, menjadi suatu solusi. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengevaluasi keandalan data curah hujan dan data satelit sebagai bagian dari model HEC-HMS, dan (2) Mengevaluasi kehandalan model hujan aliran yang berdasarkan data curah hujan dari satelit CHIRPS serta data curah hujan observasi sebagai output dari model HEC-HMS di DAS Kalibaru, Banyuwangi. Penelitian ini dimulai dengan proses pengumpulan data, pengolahan data, uji konsistensi, korelasi, regresi data hujan, dan pemodelan hujan dengan HEC HMS. Pengolahan data curah hujan menggunakan metode Poligon Thiessen untuk menghitung rerata wilayah data observasi dan data satelit CHIRPS. Korelasi antara data hujan observasi dan data satelit CHIRPS dilakukan dengan rentang waktu tahunan dari 2011 hingga 2020. Pemodelan hujan menjadi aliran menggunakan program HEC-HMS dengan input harian untuk kalibrasi dan validasi. Metode yang digunakan melibatkan Green and Ampt dan SCS-CN untuk Volume Runoff, Clark UH dan SCS UH untuk Direct Runoff, Constant Monthly untuk Baseflow, dan Muskingum Cunge untuk Routing. Program HEC-HMS dilengkapi dengan kemampuan kalibrasi dan validasi guna menguji tingkat keandalan suatu model. Hasil Hasil korelasi antara data curah hujan dari CHIRPS dan pengamatan curah hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS) selama periode 2011 hingga 2020 menunjukkan nilai korelasi sedang sebesar 0,508. Hasil dari pemodelan hujan-debit di DAS Kalibaru menunjukkan bahwa karakteristik DAS tersebut lebih sesuai dengan metode Clark UH. Berdasarkan penjelasan hasil pemodelan menggunakan dua metode, dapat disimpulkan bahwa dengan karakteristik DAS Kalibaru, model curah hujan CHIRPS tidak dapat diterima. Rekomendasi yang diusulkan adalah menggunakan metode Green and Ampt untuk estimasi volume runoff dan metode Clark UH untuk estimasi Direct runoff. Penyebab rekomendasi ini adalah karena pada model Clark UH terdapat metrik evaluasi NSE yang tercatat menunjukkan performa yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode SCS-UH.

Description

Reaploud Repository February_agus

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By