Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Oligomenore pada Mahasiswi Tingkat Akhir Program Sarjana Keperawatan Universitas Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Permasalahan stres pada mahasiswa merupakan isu yang cukup sering ditemukan dalam lingkungan akademik, terutama pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menjalani proses penyusunan skripsi. Tekanan akademik yang tinggi, seperti tenggat waktu penyusunan skripsi, revisi yang terus menerus, dan kekhawatiran terhadap kelulusan seringkali memicu stres yang berkepanjangan. Stres ini tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi tubuh, termasuk sistem reproduksi wanita. Salah satu bentuk gangguan reproduksi yang dapat muncul akibat stres adalah oligomenore, yaitu siklus menstruasi yang jarang terjadi, biasanya dengan interval lebih dari 35 hari. Oligomenore bisa menjadi indikator awal adanya gangguan hormonal atau kondisi klinis tertentu yang berhubungan dengan stres. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kejadian oligomenore pada mahasiswi tingkat akhir Program Sarjana Keperawatan Universitas Jember. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami apakah stres yang dialami mahasiswa benar-benar berpengaruh terhadap siklus menstruasi mereka, dan sejauh mana hubungan tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah. Penelitian ini tidak hanya bertujuan menjelaskan fenomena yang terjadi di lapangan, tetapi juga sebagai dasar dalam memberikan saran intervensi yang dapat diterapkan dalam dunia keperawatan dan pendidikan tinggi. Secara khusus, penelitian ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, untuk mengetahui tingkat stres yang dialami oleh mahasiswi tingkat akhir. Kedua, untuk mengetahui prevalensi kejadian oligomenore di kalangan responden. Ketiga, untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara tingkat stres dengan kejadian oligomenore. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, yang berarti data dikumpulkan pada satu waktu tertentu dan dianalisis untuk melihat hubungan antar variabel. Populasi penelitian adalah mahasiswi semester akhir di Program Sarjana Keperawatan Universitas Jember, dengan jumlah sampel sebanyak 94 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui dua kuesioner, yaitu kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk mengukur tingkat stres, dan kuesioner tentang riwayat siklus menstruasi untuk mengidentifikasi apakah responden mengalami oligomenore. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan mayoritas responden mengalami stres sedang (67%), stres rendah (22,3%), dan stres tinggi (10,6%). Hasil oligomenore menunjukkan 27,7% responden mengalami oligomenore. Analisis Chi-Square menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat stres dan oligomenore (p = 0,000). Penemuan ini menguatkan teori bahwa stres yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dapat mengganggu keseimbangan hormonal dalam tubuh, terutama hormon yang berperan dalam siklus menstruasi. Saat seseorang mengalami stres, sistem saraf pusat akan merespons dengan mengaktifkan poros hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA axis), yang pada gilirannya dapat meningkatkan kadar hormon stres seperti kortisol. Peningkatan kortisol yang berkepanjangan dapat menghambat pelepasan hormon-hormon penting seperti Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH), dan Luteinizing Hormone (LH), yang semuanya berperan dalam proses ovulasi. Akibatnya, proses ovulasi terganggu dan siklus menstruasi menjadi tidak teratur atau jarang terjadi (oligomenore). Faktor lain yang juga ditemukan turut memengaruhi kejadian oligomenore adalah usia, usia menarche, indeks massa tubuh (IMT), dismenore, dan durasi menstruasi.

Description

Reaploud Repository Maret_agus

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By