Pengaruh Serbuk Jamur Tiram per Sonde terhadap Ketebalan Epitel Kulit Tikus Luka Bakar Derajat III
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Luka bakar derajat III merupakan bentuk cedera termal paling berat yang ditandai dengan kerusakan penuh pada epidermis dan dermis, termasuk hilangnya struktur adneksa kulit seperti folikel rambut dan kelenjar keringat. Kondisi ini menyebabkan proses reepitelisasi terhambat sehingga penyembuhan luka berlangsung lebih lama dan berisiko menimbulkan infeksi serta komplikasi lanjutan. Upaya terapi tambahan diperlukan untuk mendukung regenerasi jaringan dan mempercepat proses penyembuhan luka bakar. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti β-glukan, polisakarida, flavonoid, dan senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta imunomodulator, sehingga berpotensi mendukung proses regenerasi epitel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk jamur tiram per sonde terhadap ketebalan epitel kulit tikus luka bakar derajat III. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan rancangan repeated measure post-test control group design. Subjek penelitian adalah tikus putih jantan galur Wistar (Rattus norvegicus) berusia 3–4 bulan dengan berat badan 200–250 gram. Tikus diinduksi luka bakar derajat III pada area dorsal menggunakan plat besi panas, kemudian dibagi secara acak menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (K−), kelompok kontrol positif (K+), dan kelompok perlakuan (P) yang mendapatkan serbuk jamur tiram secara oral melalui sonde setiap hari selama 20 hari. Pengambilan jaringan kulit dilakukan pada hari ke-4, 8, 12, 16, dan 20 pasca induksi luka bakar. Preparat jaringan diwarnai menggunakan Hematoksilin–Eosin (H&E), kemudian dilakukan pengukuran ketebalan epitel menggunakan perangkat lunak OptiLabViewer/ImageJ pada beberapa lapang pandang dengan perbesaran 400×. Data dianalisis menggunakan uji statistik non-parametrik meliputi uji Kruskal–Wallis, Mann–Whitney, Friedman, dan Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketebalan epitel meningkat secara bertahap pada seluruh kelompok seiring waktu pengamatan. Perbedaan ketebalan epitel yang bermakna antar kelompok mulai terlihat pada fase penyembuhan lanjut, terutama pada hari ke-16 dan ke-20 (p < 0,05). Kelompok perlakuan menunjukkan nilai mean rank yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol negatif, yang mengindikasikan proses reepitelisasi yang lebih baik. Dengan demikian, pemberian serbuk jamur tiram per sonde selama 20 hari dapat meningkatkan ketebalan epitel kulit tikus luka bakar derajat III, sehingga berpotensi digunakan sebagai terapi suportif untuk mendukung proses penyembuhan luka bakar
Description
Finalisasi_Maya_16 Juni 2026
