Analisis Kemampuan Penalaran Adaptif Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Bangun Ruang Sisi Lengkung Ditinjau dari Gaya Kognitif
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Kemampuan penalaran merupakan suatu kapasitas dalam berpikir secara
logis, kritis, dan reflektif dalam menganalisis dan menyelesaikan permasalahan
matematika dengan menarik kesimpulan berdasarkan pernyataan yang dibuktikan
benar. NRC (National Research Council) memperkenalkan satu kemampuan
penalaran yang mencakup kemampuan induksi dan deduksi, dengan istilah
kemampuan penalaran adaptif. Kemampuan penalaran adaptif merupakan
kemampuan siswa dalam berpikir secara logis dan dapat memberikan alasan untuk
pernyataan yang telah dibuat. Oleh karena itu, penalaran adaptif erat kaitannya
dengan pemecahan masalah karena penalaran merupakan kompetensi utama dalam
matematika. Siswa yang memiliki kemampuan penalaran adaptif akan lebih mudah
dalam menyelesaikan permasalahan dengan merumuskan dan dapat memberikan
penjelasan terkait langkah-langkah yang digunakan untuk mendapatkan jawaban.
Perbedaan siswa dalam mengolah dan menyusun informasi yang telah diterima
disebabkan karena adanya perbedaan gaya kognitif yang dimiliki. Gaya kognitif
yang mencerminkan seseorang dalam berinteraksi adalah gaya kognitif field
dependent (FD) dan field independent (FI). Siswa dengan gaya kognitif FI unggul
dalam menganalisa dan mengerjakan dengan terstruktur, sedangkan siswa dengan
gaya kognitif FD lebih nyaman ketika diberi banyak bimbingan dari orang lain.
Beberapa penelitian telah membahas tentang kemampuan penalaran adaptif siswa,
tetapi masih belum ditemukan adanya penelitian tentang kemampuan penalaran
adaptif yang ditinjau dari gaya kognitif field independent dan field dependent pada
materi bangun ruang sisi lengkung.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan penalaran
adaptif siswa dalam menyelesaikan masalah bangun ruang sisi lengkung ditinjau
dari gaya kognitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode tes dan wawancara. Daerah
penelitian yang dipilih adalah SMPN 7 Jember pada kelas IX dengan jumlah 30
siswa. Pemilihan subjek penelitian berdasarkan test gaya kognitif GEFT dan
mempertimbangkan hasil tes kemampuan penalaran adaptif siswa. Berdasarkan
hasil analisis test GEFT dan hasil tes kemampuan penalaran adaptif, selanjutnya
dipilih subjek penelitian yaitu 3 siswa FI dan 3 siswa FD dengan skor tertinggi dari
hasil tes kemampuan penalaran adaptif yang telah dikerjakan oleh siswa. Setelah
pemilihan subjek kemudian dilaksanakan wawancara kepada enam subjek
penelitian yang telah terpilih untuk menggali kemampuan penalaran adaptif siswa
yang tidak muncul pada pengerjaan tes.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan gaya kognitif field
independent dan field dependent dapat memenuhi empat dari lima indikator yang
digunakan, yaitu mampu menyusun dugaan, mampu memberikan alasan atau bukti
terhadap kebenaran, mampu menarik kesimpulan dari pernyataan, dan mampu
memeriksa kesahihan suatu argumen. Siswa dengan gaya kognitif FI dapat
mengerjakan sendiri dalam memproses informasi dan menyelesaikan persoalan
tersebut tanpa berdiskusi dengan teman, karena mereka tidak terlalu bergantung
pada faktor eksternal. Siswa dengan gaya kognitif FI memiliki kekurangan dalam
proses wawancara, dimana mereka memiliki kesulitan dalam menjelaskan. Siswa
dengan gaya kognitif FD membutuhkan bantuan pada awal pengerjaan sebagai
petunjuk, hal ini menyebabkan kurangnya kemandirian dalam menyelesaikan
masalah matematis. Siswa dengan gaya kognitif FD juga memiliki keunggulan
dalam menjelaskan ketika proses wawancara, karena mereka memiliki kemampuan
verbal yang baik dalam menjelaskan informasi dan langkah-langkah penyelesaian
yang telah mereka pahami.
Keterbatasan pada penelitian terlihat pada tahap pemberian soal
kemampuan penalaran adaptif pada siswa dan wawancara. Pada tahap tersebut
terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Pertama, waktu yang
dialokasikan belum mencukupi bagi sebagian siswa untuk menyelesaikan seluruh
soal yang diberikan, hal ini mengakibatkan sebagian siswa tidak dapat
menyelesaikan seluruh soal yang diberikan dan hanya mengerjakan satu dari dua
soal. Kedua, selama pelaksanan penelitian pengawasan terhadap siswa ketika
mengerjakan soal. Akibatnya, masih terdapat beberapa siswa yang melakukan
diskusi dengan teman ketika mengerjakan soal. Ketiga, keterbatasan pada penelitian
ini juga terdapat pada proses wawancara, karena sebagian siswa belum terbiasa
untuk mengkomunikasikan proses berpikir mereka dan alasan yang mendasari
proses penyelesaian soal. Hal tersebut menyebabkan peneliti perlu melakukan
pertanyaan lanjutan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap. Bagi peneliti
selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan waktu pengerjaan atau jumlah
soal yang dikerjakan oleh siswa dalam menyelesaikan soal tersebut. Peneliti
selanjutnya juga dapat lebih optimal dalam segi pengawasan dan pada proses
wawancara, serta dapat melakukan penelitian yang lebih luas tentang kemampuan
penalaran adaptif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan
peninjauan yang berbeda dan materi yang berbeda.
Description
Validasi file repositori 6 Agustus 2026_Firli
