Strategi Pemasaran Produk Olahan Mangrove Pada Kelompok Tani Hutan Makmur di Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pesisir pantai di daerah
tropis dan subtropis yang didominasi oleh beberapa spesies mangrove yang
mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut, lumpur dan berpasir.
Pemanfaatan mangrove bukan hanya untuk ekosistem pencegah erosi air laut,
melainkan dari berbagai jenis atau varietas mangrove dapat dimanfaatkan untuk
diolah menjadi beberapa produk yang memiliki nilai jual. Upaya peningkatan
perekonomian menjadi salah satu alasan berkembangnya pemanfaatan hasil hutan
mangrove salah satunya yang dapat diolah menjadi produk yakni daun mangrove
yang dimanfaatkan adalah jenis Acanthus Ebracteatus. Kegiatan ini dilakukan
oleh kelompok usaha pengolahan mangrove yang ada di Kecamatan Muncar yaitu
KTH (Kelompok Tani Hutan) Makmur.
KTH (Kelompok Tani Hutan) Makmur terbentuk sejak tahun 2015 dengan
tujuan awal untuk melestarikan hutan mangrove di Wringinputih, Kecamatan
Muncar. Namun melihat potensi hasil hutan mangrove, KTH Makmur juga
memanfaatkan hasil hutan untuk diolah menjadi beberapa produk antara lain teh
dan keripik mangrove dengan merek “Pang-Pang”. Kegiatan agroindustri KTH
Makmur pengolah hasil hutan mangrove mendapatkan dukungan penuh dari
pemerintah, mulai dari diberikan fasilitas untuk mengisi berbagai bazar event
pemerintah dan dibantu dalam pemasaran produk hasil olahan mangrove. Selain
itu, pengembangan agroindustri mangrove KTH Makmur juga didukung dengan
ketersediaan bahan baku yang cukup melimpah dari hutan mangrove yang ada di
Teluk Pang Pang Desa Wringinputih. Keunikan produk serta manfaat yang ada
dalam mangrove menjadikan produk hasil olahan mangrove memiliki daya tarik
tersendiri ketika dipasarkan ke masyarakat. Disisi lain, agroidustri mangrove KTH
Makmur juga mengalami kendala dalam pengembangan usahanya, antara lain
minimnya pengetahuan mansyarakat mengolah mangrove serta khasiat mangrove,
terbatasnya teknologi pengolahan, banyaknya produk makanan olahan yang
serupa dan lebih dulu dikenal oleh masyarakat, serta belum bisa maksimalnya
kegiatan promosi dan pemasaran produk mangrove. Kondisi ini tentunya
mempengaruhi serangkaian kegiatan produksi dan pemasaran produk olahan
mangrove KTH Makmur.
Berdasarkan fenomena, peneliti tertarik melakukan penelitian yang
bertujuan untuk: (1) mengetahui saluran dan fungsi-fungsi setiap lembaga
pemasaran yang terlibat, (2) mengetahui margin dan efisiensi pemasaran produk
olahan mangrove, dan (3) untuk mengetahui pilihan prioritas strategi yang dapat
diterapkan KTH Makmur untuk pengembangan pemasaran produk olahan
mangrove di Desa Wringinputih Kecamatan Muncar. Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dan analitik dalam menjabarkan hasil analisis penelitian. Untuk
penentuan daerah penelitian ditentukan menggunakan metode purposive method
yaitu Desa Wringinputih Kecamatan Muncar tepatnya KTH Makmur sebagai
agroidustri yang mengolah hasil hutan mangrove. Penentuan sampel digunakan
metode purposive sampling sebanyak 12 responden, yang terdiri dari pengurus
KTH Makmur dan lembaga pemasaran meliputi distributor, pengecer dan
konsumen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) saluran pemasaran produk
mangrove KTH Makmur terbagi menjadi 3 saluran pemasaran yaitu (KTH
Makmur- Konsumen), (KTH Makmur-Dirstributor-Konsumen) dan (KTH
Makmur-Pengecer-Konsumen), yang mana setiap lembaga pemasaran
menjalankan fungsi pemasaran mencakup fungsi pertukaran, fungsi fisik dan
fungsi penyediaan sarana. (2) Hasil analisis margin pemasaran, diketahui saluran
pemasaran pada saluran satu tingkat (KTH Makmur-Pengecer-Konsumen) sebesar
Rp 1.250 lebih kecil dibanding margin pemasaran saluran satu tingkat lainnya
yang sebesar Rp 3.000 (KTH Makmur-Distributor-Konsumen). Berdasarkan hasil
analisis efisiensi pemasaran diketahui saluran pemasaran yang paling efisien
adalah saluran satu tingkat yang melibatkan KTH Makmur-Pengecer-Konsumen,
berdasarkan hasil nilai margin yang terendah, nilai efisiensi yang paling kecil dan
nilai <50%. (3) Hasil matriks EFAS IFAS menunjukkan agroindustri KTH
Makmur berada pada kuandran I dengan kebijakan yang dijalankan yaitu
pertumbuhan agresif, sementara berdasakan hasil analisis SWOT agroindustri
berada pada sel II dengan fokus pertumbuhan strategi melalui integrasi horizontal.
Hasil analisis QSPM, strategi prioritas yang dapat diterapkan KTH Makmur
adalah memperluas jangkauan pasar melalui promosi pemasaran dengan skor TAS
sebesar 6,57.
Description
Reupload Repositori File 29 Januari 2026_Kholif Basri
