Determinan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di wilayah kerja Puskesmas Rogotrunan Kabupaten Lumajang

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstract

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat <2500 gram. World Health Organizations (WHO) menyatakan bahwa BBLR secara umum masih menjadi masalah kesehatan yang memiliki hubungan erat dengan berbagai dampak jangka pendek dan jangka panjang. Data Direktorat Gizi Masyarakat pada tahun 2021 menyebutkan bahwa dari 34 provinsi di Indonesia terdapat 3,1% bayi lahir dengan BBLR. Angka BBLR di Provinsi Jawa Timur tergolong tinggi yaitu sebesar 3,8%. Hasil studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang pada tahun 2021 menunjukkan bahwa angka BBLR sebanyak 1,87% dan Puskesmas Rogotrunan merupakan salah satu puskesmas yang memiliki angka BBLR tinggi sebanyak 57 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja determinan yang berhubungan dengan kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Wilayah Kerja Puskesmas Rogotrunan Kabupaten Lumajang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi case control. Sampel penelitian ini yaitu 30 ibu yang melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) dan 30 ibu yang melahirkan bayi berat lahir normal yang diperoleh dari simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner. Variabel bebas terdiri dari karakteristik sosiodemografi ibu (usia, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan), faktor obstetri ibu (paritas, jarak kehamilan, status KEK, dan komplikasi kehamilan), faktor perawatan kesehatan yakni jumlah kunjungan ANC, faktor lingkungan yakni analisis univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok kasus sebagian besar responden berusia 20-35 tahun (63,3%), berpendidikan SMA (56,7%), tidak bekerja (63,3%), pendapatan keluarga kurang dari UMK (56,7%), paritas berisiko yaitu paritas 1 dan >4 (56,7%), jarak kehamilan ≥3 tahun (76,7%), status KEK ibu dengan LILA ≥23,5 cm (53,3%), mengalami komplikasi kehamilan (63,3%), melakukan kunjungan ANC <6 kali (63,3%), ibu terpapar asap rokok (80%). Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian BBLR adalah usia ibu (p-value 0,033), pendapatan keluarga (p-value 0,036), paritas (p-value 0,003), status KEK (p-value 0,011), komplikasi kehamilan (p-value 0,039), kunjungan ANC <6 kali (p-value 0,001) dan ibu terpapar asap rokok (p-value 0,008). Sedangkan variabel yang tidak memiliki hubungan dengan kejadian BBLR adalah pendidikan, pekerjaan dan jarak kehamilan karena (p-value ≥ 0,05). Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik diperoleh hasil bahwa determinan yang paling berhubungan dengan kejadian BBLR yaitu frekuensi kunjungan Antenatal Care (p-value 0,005) dan status kekurangan energi kronik (p-value 0,023). Berdasarkan hasil tersebut maka disarankan bagi Puskesmas meningkatkan program di Puskesmas dalam pemberian makanan tambahan (PMT) dengan melakukan pemantauan pada ibu hamil melalui kartu ceklist konsumsi PMT, mengoptimalkan cakupan ANC dengan jemput bola melalui kader. Saran bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat sebagai bahan referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya. Bagi masyarakat khususnya orangtua sebelum merencanakan kehamilan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan bidan atau tenaga kesehatan, adanya penyuluhan untuk masyarakat mengenai bahaya merokok disekitar ibu hamil, serta menyebarkan informasi determinan kejadian BBLR melalui media sosial ataupun media cetak.

Description

Reupload file repository 10 Februari 2026_Ratna

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By