Makna Religiusitas Bagi Penduduk Perempuan Sekitar Pondok Pesantren An-Nur Kota Probolinggo
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Abstract
Penduduk perempuan di sekitar Pondok Pesantren An-Nur Kota Probolinggo memiliki pemahaman lain mengenai religiusitas. Umumnya tinggal di lingkungan pesantren harus berpakaian sopan dan menutup aurat seperti santri-santri dan pengasuh pesantren, namun penduduk perempuan di sana tidak menerapkan simbol religiusitas yang dipahami oleh pesantren. Bahkan beberapa dari mereka memasuki lingkungan pesantren tidak mengenakan kerudung, meskipun pihak pondok pesantren telah membuat aturan wajib mengenakan kerudung ketika memasuki area pesantren. Namun tetap saja beberapa dari mereka melanggar aturan tersebut. Hal ini bisa jadi karena kebiasaan penduduk perempuan di sana yang tidak mengenakan kerudung sehari-harinya.
Penduduk perempuan di sana mengenakan kerudung pada acara tertentu saja, misalnya acara keagamaan, pernikahan, dan mendatangi acara formal lainnya. Ketika memasuki lingkungan pesantren dengan tujuan mengantar anaknya pergi ke sekolah, beberapa dari mereka tidak mengenakan kerudung. Namun ada pula yang mengenakan kerudung hanya sebagai formalitas saja, sesampainya di rumah kerudung tersebut di lepas dan kembali beraktivas dengan tidak memakai kerudung. Hal lain yang mempengaruhi mereka tidak berkerudung adalah cuaca yang panas sehingga membuat kesulitan dalam beraktivitas karena gerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna yang dimiliki oleh penduduk perempuan di sekitar Pondok Pesantren An-Nur Kota Probolinggo. Fokus utamanya yaitu menggali bagaimana penduduk perempuan di sana dalam memaknai religiusitas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi langsung di lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Ada pun teknik analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan penduduk perempuan di sekitar pondok pesantren An-Nur yang tidak mengenakan kerudung sehari-hari lahir dari pemahaman bahwa kerudung bukanlah penanda dari simbol religiusitas seseorang. Bagi mereka religiusitas itu dipahami dalam berbagai pengertian, yaitu dengan melihat bagaimana seseorang rajin beribadah sehari-hari terutama sholat lima waktu dan berpuasa. Selain itu, mereka juga memahami bahwa seseorang yang sering datang ke pengajian atau kajian dianggap sebagai orang yang religius. Bahkan mereka menganggap perempuan-perempuan yang mengenakan kerudung tapi tidak beribadah dan lain sebagainya, justru mereka tidak memiliki nilai-nilai religiusitas.
Temuan ini menunjukkan bahwa penduduk perempuan di sekitar pondok pesantren memiliki pemahaman lain mengenai makna religiusitas. Adanya makna yang dipahami oleh penduduk perempuan di sana dijelaskan oleh George Herbert Mead dalam teori Interaksionisme Simbolik pada konsep mind atau pikiran dengan dua penekanan yaitu makna dan simbol. Di mana makna lahir melalui proses sosial dan komunikasi, kemudian simbol lahir melalui representasi dari makna.
Description
Reupload Repositori File 04 Maret 2026_Kholif Basri
