Penerapan Non-Host Fungi Endofit Asal Ciplukan (Physalis angulata L.) Sebagai Growth-Promoting Pada Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Tanaman cabai mengalami surplus sebesar 177,20 % dengan jumlah konsumsi masyarakat Indonesia dalam sebulan sebesar 0,15 Kg. Kondisi tersebut menjadikan petani cabai harus memenuhi kebutuhan produktivitas, namun penyakit layu fusarium menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Selain itu, penyakit akibat F. oxysporum tergolong dalam 10 patogen berbahaya terhadap tanaman dan manusia penderita autoimun. Alternatif yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit layu fusarium yaitu dengan pemanfaatan mikroba beneficial dari inang lain misalkan gulma yang berasal dalam satu famili (Solanaceae) yang sama dengan tanaman cabai yaitu ciplukan (Physalis angulata L.) Aplikasi fungi endofit sebagai agens hayati dapat digunakan sebagai preventif melalui peningkatan daya tumbuh atau Plant Growth-Promoting Fungi (PGPF) dan bioprotektan pada tanaman cabai. Penelitian terhadap pengendalian penyakit layu menggunakan metode blotter test masih minim. Metode ini digunakan karena mempersempit ruang kontaminasi fungi endofit saat melakukan aplikasi, mempermudah pemantauan insidensi dan keparahan penyakit, dan mempermudah pengambilan data dengan pengukuran yang konsisten tanpa adanya faktor abiotik di luat laboratorium. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi fungi endofit ciplukan non host sebagai PGPF tanaman cabai merah keriting melalui metode Blotter Test dan menekan penyakit layu fusarium. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang fungi endofit asal ciplukan yang berperan sebagai PGPF dan menekan penyakit layu fusarium.
Penelitian dilaksanakan dengan dua tahapan. Tahapan pertama yaitu persiapan penelitian, dilakukan reculture atau penumbuhan ulang fungi endofit dari koleksi Lab. AM2B sejumlah 42 isolat. Lalu memasuki tahap seleksi isolat fungi endofit dengan metode uji dual culture dengan patogen F. oxysporum, uji patogenesitas pada benih cabai merah keriting, dan uji pertumbuhan dengan Blotter Test, sehingga mendapatkan 5 fungi endofit terbaik dengan skor tertentu. Pada tahap kedua yaitu uji Plant Growth-Promoting Fungi (PGPF) dengan metode Blotter Test dan dilakukan pengamatan daya kecambah benih dan ukuran panjang kecambah selama 13 HSI. Selanjutnya dilakukan proses penetesan 50 μl suspensi inokulum fungi patogen F. oxysporum dengan kerapatan 108 dan dilakukan pengamatan insidensi serta keparahan penyakit. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap non-faktorial dengan 5 ulangan dalam setiap perlakuan fungi endofit. Beda nyata antar perlakuan diuji dengan Uji Tukey pada taraf kepercayaan 95%.
Uji Blotter Test dengan perlakuan fungi endofit membuktikan bahwa perlakuan fungi endofit memberikan hasil yang berbeda pada pengamatan panjang perkecambahan dengan hasil paling tinggi yaitu dengan perlakuan Colletotrichum sp. MD3V2. Perlakuan fungi endofit yang menyebabkan panjang perkecambahan paling rendah yaitu Gonatobotrys sp. MD1V. Pengaplikasian fungi patogen memberikan pengaruh terhadap keseluruhan tanaman sehingga perlakuan fungi endofit tidak dapat menekan adanya patogen F. oxysporum. Insiden penyakit yang terjadi menimbulkan gejala seperti berubahnya bentuk batang yang mengkerut, daun yang berubah warna mulai menguning hingga menghitam, dan akar yang semula berwarna putih menjadi muncul bercak kecoklatan. Nilai insidensi atau kejadian penyakit serta keparahan tertinggi ditemukan pada perlakuan endofit Colletotrichum sp. MD3V2, dengan masing-masing 78,00% dan 68,76%, sementara insidensi serta keparahan penyakit terendah terdapat pada perlakuan endofit Gonatobotrys sp.MD1V, masing-masing 43,31% dan 41,29% sehingga tidak ada satupun perlakuan fungi endofit yang telah digunakan efektif dalam sebagai bioprotektan terutama terhadap penyakit layu fusarium.
Description
Reupload File Repositori 11 Februari 2026_Yudi/Rega
