Efektivitas Augmentorium terhadap Pengendalian Lalat Buah dan Augmentasi Parasitoid pada Beberapa Komoditas Hortikultura
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Lalat buah (Diptera: Tephritidae) merupakan salah satu hama polifag dengan preferensi berbagai jenis tanaman hortikultura terutama buah-buahan sehingga mengganggu proses budidaya hortikultura. Pengendalian menggunakan insektisida sintetis dinilai kurang efektif karena tidak mampu membunuh larva lalat buah yang berkembang didalam buah. Sanitasi merupakan taktik pengendalian secara fisik-mekanis berupa pengambilan buah terserang lalu dilakukan pemusnahan. Tujuan sanitasi buah terserang untuk memutus siklus hidup lalat buah. Namun, teknik sanitasi dapat menghilangkan potensi parasitoid yang telah memarasit telur maupun larva lalat buah sehingga parasitoid tidak dapat berkembang menjadi imago. Inkubasi parasitoid merupakan solusi pengendalian augmentatif dengan memanfaatkan buah yang disanitasi untuk mengoptimalkan potensi kemunculan parasitoid. Proses inkubasi dapat dilakukan dengan augmentorium. Desain augmentorium dengan jaring penyekat 1.5mm/12mesh. Taraf perlakuan bobot ditentukan berdasarkan kapasitas masing-masing jenis buah dalam memenuhi augmentorium tanpa tumpang tindih, yang dikategorikan sebagai bobot sedang. Penelitian ini menguji efektivitas augmentorium menggunakan desain ruang tertutup yang dilengkapi dengan jaring penyekat berukuran 1,5 mm atau setara dengan 12 mesh. Evaluasi pengujian dilakukan secara komprehensif pada tiga jenis tanaman inang utama, yakni jambu kristal (P. guava), cabai rawit (C. frutescens), dan belimbing (A. carambola). Taraf perlakuan diatur berdasarkan kategori kapasitas bobot buah di dalam alat, yang bertujuan untuk mengukur secara presisi fluktuasi kemunculan serangga serta menganalisis dampaknya terhadap perubahan faktor abiotik di dalam ruang inkubasi tersebut. Hubungan antara intensitas serangan (IS) dan total pupa menunjukkan korelasi positif yang kuat dan signifikan secara statistik. Berdasarkan hasil pengamatan, kondisi suhu dan kelembapan di dalam augmentorium menunjukkan variasi yang dipengaruhi oleh kombinasi jenis komoditas hortikultura dan bobot buah yang diinkubasi. Pada cabai rawit, pola perkembangan berbeda dibandingkan jambu kristal, dimana persentase kemunculan parasitoid tertinggi ditemukan pada perlakuan B2 sebesar 39,44±4,20% dengan tingkat kegagalan eklosi terendah sebesar 23,96±3,94%. Kondisi ini menunjukkan bahwa bobot buah sedang memberikan lingkungan perkembangan yang lebih sesuai bagi hubungan inang– parasitoid. Pada komoditas jambu kristal, kegagalan eklosi mendominasi seluruh tingkat perlakuan bobot dengan nilai tertinggi pada perlakuan B3 sebesar 91,58±1,41%. Keberadaan parasitoid pada buah belimbing berkaitan erat dengan hubungan ekologis antara parasitoid ini dengan B. carambolae yang merupakan hama utama belimbing. Jambu kristal (P. guajava) menunjukkan efektivitas augmentorium yang paling rendah, ditandai dengan tingginya kegagalan eklosi yang mencapai 81,76% rata-rata seluruh perlakuan bobot. Inovasi augmentorium terbukti menjadi teknologi pengendalian hayati (biokontrol) yang efektif untuk memutus siklus lalat buah sekaligus melipatgandakan populasi parasitoid di lahan budidaya. Kinerja alat ini sangat ditentukan oleh manajemen kelembapan dari biomassa buah; komoditas berukuran kecil seperti cabai rawit memberikan iklim mikro yang sangat ideal bagi musuh alami dibandingkan komoditas berair banyak seperti jambu kristal. Implementasi teknologi augmentorium dalam penelitian ini memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terkait pembangunan pertanian yang berkelanjutan sesuai dengan target SDG 1 (No Poverty) dan SDG 2 (Zero Hunger). Pada SDG 1 (No Poverty), strategi konservasi musuh alami berpotensi meningkatkan pendapatan petani melalui pengurangan biaya produksi, penurunan risiko kehilangan hasil akibat serangan hama, serta peningkatan efisiensi usaha tani. Sementara pada SDG 2 (Zero Hunger), penelitian ini mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan melalui pengurangan kehilangan hasil panen, serta penerapan pengendalian hayati yang ramah lingkungan sehingga mampu mendukung ketersediaan pangan yang aman dan berkelanjutan
Description
Finalisasi Maya_16 Oktober 2026
