Studi In Vivo Respons Imun Seluler Cluster of Differentiation 4 (CD4+) Protein Rekombinan DBL2β-PfEMP1 sebagai Kandidat Vaksin Malaria
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Plasmodium falciparum merupakan penyebab terbanyak kematian akibat
malaria. Eritrosit yang terinfeksi P. falciparum akan mengekspresikan P.
falciparum erythrocyte membrane protein 1 (PfEMP1) yang dapat berikatan dengan
intercellular adhesion molecule 1 (ICAM-1) yang banyak terdapat di permukaan
endotel pembuluh darah otak. Sekuestrasi pada pembuluh darah kecil di otak
kemudian dapat menyebabkan malaria serebral. Ikatan antara ICAM-1 dengan
PfEMP1 dimediasi oleh domain Duffy binding-like 2β (DBL2β) milik PfEMP1.
DBL2β-PfEMP1 merupakan protein rekombinan yang dapat dijadikan target ideal
kandidat vaksin malaria. Penelitian sebelumnya belum dapat menentukan dosis
optimal dari DBL2β-PfEMP1. Penelitian ini menguji imunogenisitas respons imun
seluler CD4+ yang diinduksikan oleh injeksi protein rekombinan DBL2β-PfEMP1
dari P. falciparum isolat Indonesia pada dosis yang lebih luas, yaitu 0,75 mg/kgBB,
1,5 mg/kgBB, dan 2,25 mg/kgBB.
Penelitian ini merupakan penelitian true eksperimental post-test-only
control group design. Sampel dalam penelitian ini berupa tikus Wistar jantan
berusia 2-3 bulan dengan berat 150-250 g. Tikus secara acak dimasukkan ke dalam
satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan diinjeksi
0,75 mg/kgBB, 1,5 mg/kgBB, dan 2,25 mg/kgBB DBL2β-PfEMP1 yang telah
dipurifikasi sedangkan kelompok kontrol diinjeksi NaCl 0,9%. Injeksi dilakukan
sebanyak tiga kali pada hari ke-0, ke-21, dan ke-42. Serum darah kemudian diambil
pada hari ke-14, ke-35, dan ke-56. Serum dianalisis menggunakan Enzyme-linked
immunosorbent assay (ELISA) untuk mengukur kadar protein marker CD4+.
Hasil uji Levene dan Saphiro Wilk menunjukkan bahwa data homogen,
tetapi tidak terdistribusi secara normal sehingga data tidak memenuhi syarat untuk
dilakukan uji parametrik. Analisis statistik nonparametrik berupa uji Friedman
digunakan untuk menguji perbedaan kadar protein marker CD4+ antarwaktu injeksi
pada tiap kelompok dilanjutkan dengan uji post hoc dengan metode DunnBonferroni.
Kruskal-Wallis digunakan untuk menguji perbedaaan kadar protein
marker CD4+ antarkelompok pada tiap injeksi protein rekombinan DBL2βPfEMP1.
Hasil penelitian menunjukkan tren konsentrasi protein marker CD4+ yang
serupa pada kelompok kontrol dan perlakuan. Hasil uji Kruskal Wallis
menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan
kelompok perlakuan pada semua waktu injeksi. Hasil Friedman menunjukkan
perbedaan yang signifikan pada kelompok perlakuan. Uji post hoc pairwise
comparison metode Dunn-Bonferroni menunjukkan perbedaan bermakna kadar
protein marker CD4+ antara pascainjeksi I dengan pascainjeksi II pada kelompok
perlakuan I dosis 0,75 mg/kgBB. Dapat disimpulkan bahwa protein rekombinan
DBL2β-PfEMP1 dosis 0,75 mg/kgBB; 1,5 mg/kgBB; dan 2,25 mg/kgBB dapat
memengaruhi respons imun seluler CD4+ secara suboptimal. Ditemukan bahwa
protein rekombinan DBL2β-PfEMP1 dosis 0,75 mg/kgBB menginduksi respons
imun CD4+ yang paling baik dibandingkan dosis lainnya.
Description
upload by Teddy_28/01/2026
