Hubungan Biomarker Paparan Debu Tembakau (Kotinin Urin) dengan Indeks Massa Tubuh Pekerja PTPN X Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Abstract
Indonesia merupakan negara penghasil tembakau terbesar keenam di dunia sekaligus memiliki jumlah pekerja tembakau tertinggi. Debu tembakau yang terpapar selama proses kerja mengandung zat toksik seperti nikotin, yang dapat memengaruhi metabolisme dan distribusi lemak tubuh, serta berdampak pada kesehatan pekerja, termasuk Indeks Massa Tubuh (IMT). Nikotin menurunkan IMT, tetapi lebih memengaruhi massa non-lemak (lean mass) daripada massa lemak (fat mass). Selain itu, perokok tembakau cenderung memiliki distribusi lemak yang buruk secara metabolik, dengan peningkatan adipositas sentral dan penumpukan lemak viseral, yang dapat memengaruhi status gizi. Kotinin urin, sebagai biomarker paparan debu tembakau, dapat digunakan untuk menilai dampak paparan ini terhadap kesehatan. Namun, penelitian mengenai hubungan kadar kotinin urin dengan IMT masih terbatas. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan biomarker paparan debu tembakau (kotinin urin) dengan IMT pada pekerja tembakau.
Penelitian cross-sectional dilakukan pada April – November 2024 PTPN X Kebun Ajong Gayasan, Jember yang mengikutsertakan 49 pekerja wanita non-perokok aktif yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara, diikuti pengukuran IMT, dan analisis kadar kotinin urin menggunakan metode ELISA. Analisis bivariat dilakukan dengan uji korelasi Pearson jika data terdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro-Wilk.
Hasil penelitian menunjukkan pekerja PTPN X Ajong Gayasan, Jember, memiliki distribusi usia yang terdiri dari 6,1% berusia 18-27 tahun, 26,5% berusia 28-37 tahun, 51% berusia 38-47 tahun, dan 16,3% berusia 48-59 tahun. Dari segi pendidikan, 55,1% pekerja tamat SD, 22,4% tamat SMP, 20,4% tamat SMA, dan 2% tidak bersekolah, dengan tidak ada pekerja yang menempuh pendidikan perguruan tinggi. Aktivitas fisik yang dilakukan pekerja meliputi 77,6% yang melakukan aktivitas ringan, 22,4% melakukan aktivitas sedang, dan tidak ada yang melakukan aktivitas fisik berat. Berdasarkan indeks massa tubuh (IMT), 32,7% pekerja memiliki IMT normal, 40,8% obesitas, dan 26,5% gemuk. Terkait penggunaan alat pelindung diri (APD), 71,4% pekerja tidak menggunakan APD seperti masker dan sarung tangan, sedangkan 28,6% menggunakan APD saat bekerja. Ditemukan sebanyak 32 pekerja (65,3%) berstatus perokok pasif dan sisanya (34,7%) bukan perokok pasif. Ditemukan rata-rata kadar biomarker paparan debu tembakau (kotinin urin) adalah 102,65 ng/ml dengan jangkauan hingga 42,73-175,68 ng/ml yang setara dengan kadar kotinin perokok aktif. Analisis uji pearson menunjukkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara biomarker paparan debu tembakau (kotinin urin) dengan indeks massa tubuh pekerja tembakau. Hal ini dapat terjadi karena rendahnya konsentrasi nikotin yang terabsorpsi sehingga tidak cukup kuat untuk memberikan efek signifikan pada penurunan IMT. Selain itu, IMT mungkin dapat dipengaruhi oleh lama massa kerja dan posisi duduk selama bekerja.
Penelitian ini memberikan informasi penting bahwa mayoritas pekerja PTPN X Ajong Gayasan, Jember, berusia 38–47 tahun, berpendidikan tamat SD, dan memiliki lama kerja ≥5 tahun. Aktivitas fisik mereka tergolong ringan, dengan mayoritas mengalami obesitas berdasarkan IMT, tidak menggunakan APD saat bekerja, dan terpapar sebagai perokok pasif. Rata-rata kadar kotinin urin sebagai biomarker paparan debu tembakau adalah 102,65, namun tidak ditemukan hubungan signifikan antara kadar kotinin urin dan IMT. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengeksplorasi lebih dalam mengenai dampak nikotin dari paparan debu tembakau terhadap IMT dengan menaruh perhatian lebih pada variabel perancu, penggunaan desain penelitian longitudinal, serta sampel yang lebih besar, sehingga hasil yang didapat lebih komprehensif dan representatif.
Description
Reupload file repository 22 Januari 2026_Ratna
